aku mencintai jingga

saat semesta dinaungi semburat yang mempesona

jingga, semesta menjingga

ketika lamat-lamat suara adzan menghitung detak jantung,

mengukir sebuah kata perpisahan kepada hari

wahai senja..

terimalah aku sebagai kabut

setia menantimu menyambut malam

menundukkan hati dalam-dalam hanya untuk Sang Pemilik Alam

meruntuhkan segala penat dan kesenduan

bersujud hanya untuk satu nama teragung

dan ketika jingga menutup tabir untuk hari ini,

aku ingin pulang di kala senja

kembali pada kisahku yang terukir di langit

hening dan abadi.

Tampilkan postingan dengan label SemaKata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SemaKata. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Juli 2011

Dalam Diam

Mencintaimu dalam diam
biru
sederhana
Itu saja 

Senin, 13 Juni 2011

Rinai dan Malamnya

Dikepulkannya kembali asap rokok di tengah malam. Hanya ia, sunyi, riuh di kepala dan suara putaran kipas angin di langit-langit. Hatinya seperti lubang-lubang yang dicipta belalang pada dedaunan. Kepalanya seperti labirin yang tak berujung, berkali-kali membuat tersesat, tanpa mampu ditafsirkannya, pun hanya satu aksara. Perlahan dicobanya menggumpal mata dengan nada gerimis yang tergelincir entah di putaran jarum jam keberapa. 


Senja sudah lama tamat. Namun merahnya masih ada lamat-lamat. 


Rinai berjingkat hanya untuk memastikan bahwa hari sudah benar-benar renta. Abu rokok pupus. Asapnya masih berkeliaran hendak menjangkau apa-apa yang tak mampu diraihnya. Lelah mulai dirasa. Ia tahu tak lama lagi pagi akan menetas. Namun sama sekali matanya belum terpejam. 


Aku melihat ada yang hilang dalam dirinya. Sesuatu yang sulit aku jangkau. Sebab untuk melihatnya lebih pasti, aku harus masuk terlebih dalam ke hatinya. Hatinya penuh lubang. Setiap lubang memerangkapkanku pada duri-duri yang meski tak melukai, tapi membuatku merasa perih. Ah ya, perih. Mungkin itu yang tengah ia pelihara. Yang tak lagi aku tahu, kemana kelak ia akan menggembalakan segala anak-anak perih itu?

Sabtu, 11 Juni 2011

Sssssttt.....

Ssssttt...
Ini hanya antara kau dan aku saja
"Tadi malam aku mengkhianati langit.
Setelah kusemat kata-kata
berjanji malu-malu padanya
untuk segera menunaikan harap."
Tapi hujan semalam merimisnya hingga hilang jejak.
Tak yakin.
Mungkin kali ini langit akan kembali memerah

Jumat, 10 Juni 2011

Kali Ini, Hujan Tak Benar-benar Jatuh



Hujan tak benar-benar jatuh, Rinai
meski sedari tadi kau berpayung lembab
dengan mata sembab
di tanganmu ada doa yang tengadah
mengepul bersama hangat kopi pagimu

di belakangmu, pintu masih kau biarkan terbuka lebar-lebar
kau akan masuk seorang diri lalu menguncinya
atau pergi, dengan pintu menganga
dan siapa saja dapat datang lalu pergi
tanpa meninggalkan jejak padamu?

Apapun caramu, tak pernah ada yang berlalu begitu saja
meski kau kuras habis seluruh hatimu
meski hatimu benar-benar kosong dan sendiri
sebab hati bukanlah guratan pensil yang dapat dengan mudah dihapus
tapi itu milikmu, satu-satunya
jangan lagi kau kais ia, memaksanya terkoyak lagi
berharap hujan dapat menghapusnya

tapi hujan tak benar-benar jatuh, Rinai
kau lah yang jatuh dalam air matamu sendiri.

Kamis, 09 Juni 2011

Separuh Bahagia

Terkadang, kesedihan datang dari sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan yang ingin kau bagi dengan seseorang atau beberapa orang yang melekat erat di hatimu, namun dia tak ada untuk menunggui tiap cucuran kata-katamu. Tiba-tiba saja seakan kebahagiaan yang tengah kau rasa itu lenyap. Bahkan walaupun ada seseorang yang lain menggantikan tempatnya, bahagia itu tak lagi utuh, tinggal separuh. Mungkin saja itu terjadi karena harapan yang kau tanam terlalu banyak. Itu sebabnya aku tak lagi berharap (banyak), dari apapun, dari siapapun. Maka kuciptakan saja sebuah jalan setapak, dimana aku bisa menuliskan sajak-sajak untukku sendiri. Sebagai kawan paling akrab di hela nafasku. Itulah mengapa aku menulis, sekedar menerjunkan segala yang tak lagi utuh, tinggal separuh.

Selasa, 23 November 2010

Tuhan Memberi Tanpa Putus

Tuhan memberi tanpa putus. Sejak pagi tersusun meski tak selalu dalam komposisi yang sama. Mungkin kali ini tak ada ceracau burung di atap rumahmu. Tapi percayalah, nada-nada pagi tak pernah kekurangan rima tanpa mereka. Mari kita bernyanyi saja, menggenapi sisi yang kau anggap terlalu sunyi.

Kau lihat gerak jarum jam? Entah berapa rotasi yang telah terlewat. Tanpa putus, Tuhan selalu memberi. Sejak rahim ibu melepas dan menuntunmu sampai di pintu sebuah ranah yang bernama dunia. Lalu tangis mulai mencair, menggenangi dadamu sendiri. Dan, ah....kau disambut oleh banyak senyum dan cinta.

Lalu kau tumbuh menjadi rumah yang menyimpan berdus-dus kalimat. Tak berpintu. Katamu, biar siapa saja dapat masuk dan pergi tanpa perlu berpamit.

"Aku tak ingin memulai apapun, sehingga tak ada lagi yang mesti kuakhiri."

"Barangkali aku terlampau lelah."
Ujarmu sambil berbaring di sebuah koma.

Maka kubiarkan kau mengawasi dinding-dinding kamar. Memberi waktu pada pagi untuk mencairkan siangnya. Dan kulihat kau mengendap bersama ampas kopi di cangkirmu. Bahkan sebelum langit menyusupkan gerimis di ujung rerumput.

"Aku sudah kehilangan terlalu banyak."

Lalu kau pejamkan matamu pelan-pelan. Seperti angin yang menyusup perlahan dan sopan.

Sebentar lagi kau akan tersadar, bahwa tak perlu mengakhiri bila ingin memulai. Awali saja semuanya. Segala rindu, kemalangan dan kehilangan, biarkan apa adanya. Sebab Tuhan selalu memberi lebih, tak pernah putus.

Kamis, 21 Oktober 2010

Pengojek Sepeda



Katamu, hidup harus terus dikayuh
seperti sepeda tuamu, tak pernah letih mencatatkan peristiwa
pada jalan-jalan yang banyak menyimpan kenangan
mungkin juga perih dan harapan yang tak sempat terucapkan

Aku melihatmu sebagai sebatang rumput
tetap bertahan meski terinjak oleh peradaban yang mulai tak terbaca

Atas nama kesetiaan ataukah desakan hidup
menyisir sebuah ruang di utara Jakarta

Sepanjang jalan, selalu saja ada yang bergegas
mengingat dan melupakan,
setiap yang pergi dan hilang

Lalu, hendak kemana kau tambatkan kulit tua yang mulai rapuh itu
jika suatu hari nanti tak lagi ada tempat bagimu

Namun dalam keyakinanku
tak pernah ada kata yang membuatmu diam dan terpuruk
sebab bagimu, hidup harus terus dikayuh
seperti di sore itu
kau tetap setia menjejakkan cerita di jalanan
yang tak pernah sepi dari ketergesaan

Senin, 18 Oktober 2010

Dewi Sri di Sebuah Pagi


Dari ujung sebuah sajak
kulihat matanya nanar memerah
masih pagi.
burung-burung baru saja memulai langkah takdir mereka hari ini
takkah kepaknya membuatmu tersenyum, sedikit saja?

kau ubah pagi ini dengan bau asin air matamu
apakah kau menangisi butir nasi yang dibuang?
sebab ibuku pernah berkata :
"Habiskan nasimu, nak. Jangan sampai dibuang, nanti dewi sri akan menangis!"

 "Bukan itu yang membuatku menangis", jawabnya.
"Tapi karena nasi-nasi itu tak tersebar merata
hanya menumpuk di beberapa perut.
Sementara banyak perut lain yang merindukan nasi."

Dari ujung sajak, aku pun terdiam.
Lalu kulihat ia tengadahkan kepala
Ia berdoa.
Mungkin untuk perut-perut kosong yang tertatih di pagi ini

Gambar dari sini 

Selasa, 31 Agustus 2010

Pulanglah Kawan


Aku dengar ketika kau bernyanyi di senja yang mendung

di antara kelepak elang yang jenuh melayang

hanya ujung rerumputan meramaikan deritamu

akh, aku pun tak cukup membuat bibirmu sedikit tersenyum

kau hanya melihatku sebagai desir angin

yang menyelinap di antara anak rambutmu

mencoba mengeja bayang yang tersirat di matamu

pulanglah.

kerutan kulit tangan ibumu semakin tertunduk

bayang-bayang sudah hilang

sampai kapan kau coba menjadi sebuah batu

yang terperangkap di senja yang mendung?


Sumber Gambar : di sini

Rabu, 18 Agustus 2010

Sesuatu Yang Kita Terima Apa Adanya

Meminum segelas air putih
Bernyanyi dalam hujan

Kicauan burung-burung pagi
Aroma ibu saat ia memeluk

Hangatnya sinar matahari pagi
Indahnya memandang bulan

Manisnya permen coklat
Wangi masakan ibu

Kebahagiaan melihat seorang bayi tersenyum
Kerlip bintang di langit malam

Sejuknya angin menerpa wajah
Aneka rasa es krim

Percakapan-percakapan, tawa, air mata, dan waktu yang dihabiskan bersama teman-teman
Suara hujan

Awan-awan
Kebersamaan bersama keluarga dan sahabat

Lezatnya kue buatan ibu
Segarnya udara pagi

Damainya suara adzan subuh
Indahnya senja

Ikan-ikan di akuarium
Tertawa ketika melihat kekonyolan anak-anak

Perasaan puas ketika berhasil memecahkan soal matematika
Merdunya suara ibu saat mengaji

Birunya langit
Menyiram tanaman

Sunyinya malam
Tenangnya senyuman ibu

dan...dan...masih banyak lagi hal yang kita terima apa adanya dalam hidup ini.

Tanpa kita sadari, hal-hal sederhana itulah yang membuat kita bahagia menjalani hari demi hari. Kalau saja kita pandai bersyukur. Bersyukur bahwa kedua mata ini masih dapat melihat  bunga-bunga yang bermekaran, sementara ada seseorang yang tak pernah tahu seperti apa bentuk bunga. Bersyukur karena hari ini masih bisa bernafas, sementara ada seseorang di luar sana yang sedang terbaring lemah dengan alat bantu pernafasan. Bersyukur karena hari ini disibukkan oleh pekerjaan, sementara ada banyak orang yang masih sulit mencari pekerjaan. Bersyukur karena masih mampu menapakkan kedua kaki di sepanjang jalan, sementara ada seseoarang di suatu tempat entah dimana, tak lagi tahu bagaimana rasanya berjalan. Bersyukur karena pagi ini kita masih diberi satu kesempatan lagi untuk menjalani hari. Dan....tak terhitung lagi  banyaknya hal yang Tuhan berikan kepada kita.

Jadi, nikmati setiap biskuit coklat yang kita makan, pelukan ibu, ayah, kakak dan adik, percakapan-percakapan sederhana dengan para sahabat, menyapa seorang teman, memberikan perhatian pada mereka yang bersedih, tersenyum pada orang yang tak dikenal, meminta maaf pada mereka yang tersakiti hatinya, dan jangan lupa untuk mengatakan " aku sayang padamu ".

Karena suatu hari nanti, akan tiba saatnya dimana kita tak mampu lagi melakukan semua itu.

Maka nikmati setiap hari yang diberikan-Nya,

dan bersyukurlah..

:)

Sumber Gambar : di sini

Rabu, 11 Agustus 2010

Ibu ( Pertiwi ) Kini



Ia mencoba menyusun kembali riwayatnya, yang mengelabu tergantung di langit-langit. 
Matanya menerawang, lalu terhenti pada almanak di dinding
" Aku sudah mulai menua," pikirnya.

Di luar, sedikit mendung
Tapi ada kesibukan mericuh
Orang-orang memasang bendera, mempersiapkan berbagai perlombaan, juga menyusun kepanitiaan
Semua dilakukan untuk merayakan hari ulang tahunnya.

Ia terharu.
Betapa mereka mencintainya
Mereka, anak-anak yang ia lahirkan
Putra Putri kebanggaan yang dibesarkan dari sari pati dan darah yang sama
Putra Putri yang ia didik untuk memiliki mata, yang mampu melihat saudaranya dengan kasih sayang
Memiliki telinga yang mampu mendengar tangis ketidakadilan
Memiliki lidah yang tak hanya mampu berjanji tapi juga menepati janjinya
Memiliki bahu yang bersedia meringankan beban saudaranya
Dan memiliki hati yang senantiasa menuntun untuk saling berbagi.

Dipejamkan matanya sejenak
Ada kerinduan di sana
Mungkin saja ia merindukan Sukarno, Muhammad Hatta, atau Sjahrir
Anak-anak yang dulu memperjuangkan kebebasan dirinya
Kurasa, tak ada seorang ibu pun yang melupakan anak-anaknya, bukan?
Namun seringkali kenyataan tak sesuai harapan
Tak semua anak-anaknya tumbuh sebagaimana yang diharap
Adakah ia seperti Hawa
Yang meredam perih atas kematian putranya di atas tangan putranya yang lain?
Ah, betapa dalam kau simpan perih itu


Tapi tenanglah Bu
Takkah kau lihat berapa banyak anak-anakmu yang tetap berjuang untukmu?
Tak kenal lelah mereka membawa namamu berkibar dalam merah putih
Hanya karena satu hal
Mereka mencintaimu.


Di luar. Langit kembali memendarkan birunya
Anak-anak kecil berlarian sambil membawa bendera di tangan
Ada pula yang mengikatkan kain merah putih di kepala
Ayolah Bu, hadirkan senyummu
Kemana pun jauhnya anak-anakmu pergi, kerinduan mereka hanya akan kembali padamu
Meski ada luka, biarlah
Larutkan saja pada waktu
Suatu hari nanti, kau akan melihat anak-anakmu saling bahu membahu 
Seperti dulu mereka memperjuangkan segalanya untukmu
Hingga hari ini kau dapat tegak berdiri di bawah kibaran merah putih
dan membiarkan dunia mendengar kau meneriakkan namamu, " INDONESIA !!"


Puisi ini diikutsertakan dalam acara Gelar Puisi Aku Cinta Indonesia di BlogCamp

Kamis, 29 Juli 2010

Hampir Agustus ( Lagi )

Waktu yang semakin gegas, ataukah aku yang berlari terlalu kencang?
Wah, sudah hampir Agustus ( lagi )
Bila kau masih di sini, mungkin akan ada banyak kisah yang terurai
lengkap dengan prolog yang tereja satu per satu
penuh jejak indah, tangis, tawa, senyum, juga dongeng-dongeng penghantar tidur

Tapi bukankah jalan itu sudah tak lagi sama?
meski matahari dan langit di atas sana masih sama seperti 16 tahun yang lalu
saat tatapan ramah matamu sanggup menyembuhkan lukaku
dan mampu membawaku terlelap tanpa takut pada gelap

Ah, betapa rindunya aku padamu

Satu kali aku ingin merobek penanggalan
tak ingin ada Agustus di sana
tak ingin kau pergi dari sisiku
ceriaku menguap
senyumku menghilang di antara doa-doa dan luka
dan sejak saat itu
tak pernah ada lagi kisahmu di antara Agustus

Dan hari ini, lihatlah papa, aku telah tumbuh menjadi pohon dengan akar yang kuat
walaupun kau menghilang dan luput dari hari-hariku
meski kali ini kau tak pernah lagi duduk di beranda
bersama-sama mengeja bintang di malam hari
tapi dalam doa, mari kita merevisi kisah yang pernah terlewat di antara Agustus-Agustus lama
dalam waktu yang semakin sibuk
dan hari-hari yang masih terus berlanjut

meski kita tak sempat menuliskan akhir kisahnya bersama-sama.

note : menjelang 16 tahun kepulangan papa....

  Sumber Gambar : di sini  

Sabtu, 17 Juli 2010

Karena Aku Pernah Menamaimu Dengan Rindu

aku pernah menamaimu dengan rindu
meski ku tak tahu kemana arah jejakmu
mungkin kau hanya persinggahanku di masa kecil
tapi tidak untuk sekarang
segala musim telah memberanguskan kisah-kisah dalam sejarah
kisah kau - dan juga aku

tahun demi tahun tenggelam
lalu terbit kembali dengan ceritanya yang baru
tak lagi ada kau - aku

kita sudah tak lagi ada dalam satu frame
kau berjalan menuju mata anginmu
pun aku

namun, meski semua album kita mulai melapuk
mulai berubah warna, entah sephia atau abu-abu
aku akan selalu ingat padamu,
pada rahasia-rahasia kecil dulu,
penjual kacang yang terkantuk-kantuk di depan gerbang sekolah,
sebuah tugu di persimpangan jalan menuju rumah,
tawa dan hujan

ya, aku akan selalu ingat padamu
karena aku pernah menamaimu dengan rindu

Sumber Gambar : di sini

Senin, 12 Juli 2010

Hidup Ini Manis Seperti Gula-gula


 Anak-anak yang sedang bermain di lapangan dekat rumah 
Free Smilies courtesy of www.GreenSmilies.com

berlarilah adik kecil,
berlarilah di antara cuaca yang rintik
tak usahlah kau tahu tentang peluh yang berjuang di tengah debu jalanan
atau dalam hiruk pikuknya kota
yang tak pernah henti bergegas.

langkahkan saja kakimu di atas rerumputan
yang tumbuh dari sisa-sisa hujan yang pernah singgah di sini

galilah tanah-tanah itu
temukan mimpimu
dan jangan ragu untuk beristirahat sejenak jika kau merasa lelah.
tak perlu kau risaukan tentang orang-orang yang mengutuki hari
atau menyalahkan takdir, karena musim telah menggugurkan rencana-rencana mereka
musim tak harus disalahkan
bagaimanapun, ia yang mengajarimu untuk tidak mempertanyakan mengapa senja harus mengalah pada malam

kelak, jika kau telah dewasa
galilah mimpi-mimpi seperti saat kau menggali tanah di masa kecil
lalu menyiramnya dengan harapan dan doa
saat itu, mungkin akan ada perih
namun teruslah berlari
kunyahi saja setiap luka yang ada
sebab getirnya akan membuatmu menjadi semakin kuat 
dan kau akan tahu
pada akhirnya, hidup ini manis seperti gula-gula

Rabu, 07 Juli 2010

Selamat Jalan Sang Penggubah

Mengenangmu, adalah mengenang tahun-tahun yang melesap dalam masa kanak-kanak
senandung-senandung indah darimu turut meramaikan perjalananku
ikut mengantarku lelap dalam kelamnya malam
menyusupi gelak tawaku, seperti angin di sela-sela pucuk daun


Senandung ceria yang lahir dari jemarimu melekat pada hati jutaan anak di tanah ini
membawa mereka tersenyum pada hari, pada musim, padamu


Tapi bukankah setiap yang datang akan pergi lagi
pada waktunya, kembali pulang ke asalnya


Akh, kuyakin helaian-helaian lembut nyanyianmu masih akan menebarkan keriangannya,
anak-anak gembala masih selalu riang dan gembira,
pelangi masih setia menemani malam-malam yang panjang


Maka tidurlah yang tenang
diantara lampiran doa yang dikirimkan untukmu
dan bulan itu, yang selalu bersinar di langit
cahayanya akan sampai padamu


::: Teriring doa untuk kepulangan A.T. Mahmud :::


Sumber Gambar : di sini

Download Lagu : 

Sabtu, 03 Juli 2010

Duduklah, Mari Pandangi Langit

Bukan. Ini kali bukannya tak ada yang menjagai langit.
Biarkan saja ia kelam
Biarkan ia pejamkan mata barang sejenak
Setelah letih menunggui wajah siang dan bergesa menaburkan jingga pada senja
Duduklah. Pandangi saja ia.
Sebab esok ia akan kembali lagi padamu
Pada waktu, nasib, mungkin juga rindu

 Sumber Gambar : di sini

Kamis, 01 Juli 2010

Selendang Ibu

 

terkesiap aku menyusuri jejalan ini
jalan menuju rumahku
dimana aku belajar mengenali aroma ibu
tempat kali pertama aku mencecap ruang dunia,
yang menawarkan dalil-dalil kehidupan,
untuk bekalku dalam perjalanan panjang
di sebuah pertigaan aku berbelok ke kiri
semak dan belukar bersenda gurau dengan cuaca
batu-batu bergulat dalam kesunyian
sedang aku mencari sebuah jawaban
dari pertanyaan yang tak terselesaikan

teringatku pada surat di laci kamar :
" pulanglah Fa. Ibumu telah kembali pada Sang Empunya. Tengoklah sebentar. Walau hanya tinggal pusara."
_Kakakmu_

hati ini mulai membuncah
terngiang wajah ibu
bergerak-gerak lembut di pipiku
mengusap air mata yang membanjir
jatuh berderai-derai menghujam tanah
tiba di rumah,
tak ada ibu.
hanya selendang melambai
menjejalkan aroma kerinduan seorang anak
yang tak pernah pulang ke pangkuan.

note : Dari kisah seorang kawan yang baru saja melepas kepergian Ibu yang lama tak pernah dijumpainya. Semoga kawanku diberikan ketabahan dan keikhlasan, dan ibunya mendapat tempat yang layak di sisi-Nya...Amin...( yang sabar ya Fa..) 

Sumber Gambar : di sini


Smiley

Senin, 28 Juni 2010

Sore, Menjelang Senja

Hari sore, menjelang senja
beranda rumah mungil bercat dinding hijau
lalu aku bernyanyi sendiri

tanaman lidah buaya
seekor ulat bulu, mencoba mengeja bebayang yang hampir memudar

cuaca masih sedikit lembab
aroma rumput basah terasa begitu manis
hmmm, aku menyukai sore ini
daun berguguran
sisa hujan ini siang
hening.
beberapa ekor ayam berlarian menuju kandang
langit menggelap
suara adzan mulai terdengar, mengalun-alun
indah

note : selalu ada aroma manis dalam sepotong sore 
Smiley

Sabtu, 26 Juni 2010

Anak Kecil Di Balik Hujan

tadi malam.
aku lihat anak kecil
rambutnya keriting dan tubuhnya dekil

ia diguyur hujan
dalam kecutnya langit tanpa bulan

aku terdiam sejenak
dan rintik semakin menderas

langkahnya kuyu.
mungkin ia sudah tak tau lagi
berapa jejak yang sudah ditapakinya.

dengan wajah nanar
entah kedinginan atau kelaparan
ia menyeret kakinya
menyisakan sisa-sisa kepiluan di jalan becek

aku meringis.
membayangkan sebuah malam panjang yang menjejalkan kenyerian.

tak pernah habis
Smiley

Kamis, 03 Juni 2010

Mulai Posting Lagi

Udah lama blog ini dibiarin kosong ( sebenernya ga lama-lama juga sih, baru sekitar tiga bulan.. :D ). Saking ga pernah log in, sampai lupa passwordnya. Reset lagi deh passwordnya. Untung ga ribet. So, mulai lagi deh posting-posting tulisan. Semoga aja ga dibiarin kosong lagi....Semangat !!