Ada yang udah nonton film Mutiara Hitam? Satu dari rangkaian film televisi 20 Wajah Indonesia yang diproduksi oleh salah satu stasiun televisi swasta, yang bercerita tentang perjuangan anak-anak Papua untuk menggapai cita-cita mereka. Aku ga tau persis ceritanya seperti apa karena udah telat nontonnya ( Padahal udah pasang alarm. Tapi ternyata alarmnya diset satu hari setelah tanggal penayangan film tersebut. Inget hari tapi lupa tanggal.. -___- ) *tuing tuing...*
Salah satunya ada yang bercita-cita ingin pergi ke Jakarta dan menjadi seorang pemain sepak bola. Namun keinginannya ditentang oleh sang ayah karena menurutnya seorang atlit itu pada akhirnya tidak dihargai. Bahkan banyak atlit nasional yang saat ini karirnya berakhir dengan menjadi satpam, pedagang asongan, dan lain sebagainya. Sang ayah sendiri adalah mantan atlit, yang sedikit kecewa dengan perlakuan pemerintah. Dulu, ia dihargai karena menganggap telah mengharumkan nama bangsa. Namun saat ini ia hanya seorang nelayan Papua yang dikenal oleh orang-orang kota sebagai "Pembom Ikan".
Ga terlalu banyak adegan film yang nempel. Selain karena udah telat, aku nonton sambil ngobrol di telfon dengan seseorang yang udah insaf begadang "katanya".... :P. Juga karena aku terlalu terbuai dengan keindahan Kepulauan Raja Ampat yang menjadi latar belakang film tersebut.
Terlepas dari semuanya, ada satu dialog yang membuatku tertegun sejenak. Seorang istri yang mengatakan pada suaminya bahwa tak ada penyesalan baginya karena telah memilih dia menjadi suaminya. Kira-kira dialognya seperti ini : " Harapan yang membuat saya bertahan sampai saat ini. Dan saya tidak pernah menyesal dengan apa yang telah saya pilih."
Pilihan. Hidup itu penuh dengan pilihan bukan? Berbicara tentang pilihan, lalu bagaimana dengan orang-orang yang dilahirkan dengan berbagai "keistimewaan", misalnya terlahir dengan kondisi tidak bisa melihat, tidak mampu berbicara, tangan atau kaki yang tidak tumbuh dengan sempurna dan berbagai kondisi lainnya. Bagaimana pula dengan orang-orang yang tadinya hidup normal, tiba-tiba dihadapkan pada keterbatasan yang akhirnya membuat hidupnya "terbatas" baik secara fisik atau non fisik. Apakah itu pilihan? Sama sekali bukan. Bahkan mungkin ada anggapan bahwa mereka "terpaksa" untuk menjalani pilihan yang telah dibuat oleh Tuhan. Benarkah demikian? Dulu, aku pasti menjawab "iya". Tuhan kok ga adil banget ya, memaksakan sesuatu yang tidak kita sukai. Dan dulu pula, ketika aku tenggelam dalam pemikiran seperti itu, aku dituntun untuk membaca sebuah tulisan yang akhirnya menjadi titik tolakku untuk bangkit dari keterpurukan.
Tulisan itu berisi tentang seorang ibu berusia 31 tahun yang lumpuh karena tumor tulang belakang. Suatu hari ia mengirimkan surat kepada seorang narapidana yang bernama Waymon. Berikut isi suratnya :
Waymon yang terkasih,
Saya ingin Anda tahu bahwa saya terus memikirkan Anda sejak menerima surat Anda. Anda bercerita tentang betapa sulit hidup di balik jeruji besi, dan hati saya selalu beserta Anda. Tapi ketika Anda mengatakan bahwa saya mustahil membayangkan rasanya dipenjara, saya merasa terdorong untuk menjawab bahwa dugaan Anda salah.
Kebebasan ada bermacam-macam, Waymon. Begitu pula penjara. Kadang-kadang penjara kita tidak seperti yang dibayangkan oleh banyak orang.
Pada usia 31 tahun, suatu hari saya terbangun dan menemukan bahwa saya lumpuh total, saya merasa terperangkap, merasa seolah-olah dipenjara dalam tubuh yang tidak lagi memungkinkan saya berlari memintas padang penggembalaan atau berdansa atau menggendong anak saya. Untuk waktu yang lama saya terbaring demikian, berusaha tidak tenggelam dalam sikap iba diri. Saya bertanya kepada diri sendiri tentang apa enaknya hidup dalam keadaan demikian, bukankah akan lebih baik bila saya mati? Saya terus memikirkan keadaan keterpenjaraan ini, karena bagi saya seolah-olah telah kehilangan segala sesuatu yang berarti dalam hidup saya. Saya hampir putus asa.
Akan tetapi kemudian, pada suatu hari datanglah suatu kesadaran dalam diri saya bahwa, sesungguhnya, masih ada beberapa pilihan yang terbuka bagi saya dan bahwa saya mempunyai kebebasan untuk memilihnya. Haruskah saya tersenyum ketika bertemu anak-anak saya lagi atau haruskah saya menangis? Haruskah saya menyumpahi Tuhan atau sebaliknya memohon kekuatan tambahan kepada-Nya? Saya berusaha untuk memutuskan dan berusaha, selama hayat masih dikandung badan, untuk hidup semampu saya, untuk mencari cara mengubah pengalaman-pengalaman yang tampaknya negatif menjadi pengalaman-pengalaman positif, untuk mencari cara mengubah keterbatasan-keterbatasan fisik saya dengan memperluas cakrawala mental dan spiritual saya. Saya dapat memilih untuk menjadi teladan yang positif bagi anak-anak saya, atau menenggelamkan diri ke ketidakberdayaan dan mati, baik secara emosional maupun fisik.
Ada bermacam-macam kebebasan, Waymon. Bila kita kehilangan salah satu kebebasan, kita hanya tinggal mencari kebebasan yang lain.
Anda dan saya masih dikaruniai kebebasan memilih buku-buku yang baik, mana yang akan kita baca, mana yang akan kita singkirkan.
Anda dapat memilih melihat ke jeruji, atau melihat lewat jeruji. Anda dapat menjadi teladan bagi mereka yang lebih muda, atau bergabung dengan para pembuat onar. Anda dapat memilih mencintai Tuhan dan berusaha mengenal-Nya lebih baik, atau berpaling memunggunginya.
Bagaimanapun, Waymon, kita sama-sama menjalani keadaan ini.
-------------------------------------------------------------------
*Tertulis bahwa buku itu dibeli tahun 2001. Aku ingat saat itu masih libur setelah baru aja lulus SMP. Mama membelikan buku untuk mengisi waktu libur yang saat itu kuhabiskan di rumah, bolak balik rumah sakit dan tempat pengobatan alternatif*
Sampai sekarang, buku itu masih kusimpan. Kubaca ulang ketika aku nyaris lupa dengan pilihan-pilihan yang tersaji di sekelilingku. Apapun itu, apa pilihanmu hari ini kawan? ^_^
*Menulis sambil menyimak lagu "Ya Sudahlah" yang nyaring terdengar dari handphone abang yang lagi asik nyuci motornya ( untung bukan lagu India ) :D. Ketika mimpimu yang begitu indah, tak pernah terwujud, ya sudahlah. Saat kau berlari mengejar anganmu, dan tak pernah sampai, ya sudahlah. Apapun yang terjadi, ku kan slalu ada untukmu. Janganlah kau bersedih, cause everything is gonna be ok...( menyanyi dengan suara merdu kaya' kaleng dibanting )*