aku mencintai jingga

saat semesta dinaungi semburat yang mempesona

jingga, semesta menjingga

ketika lamat-lamat suara adzan menghitung detak jantung,

mengukir sebuah kata perpisahan kepada hari

wahai senja..

terimalah aku sebagai kabut

setia menantimu menyambut malam

menundukkan hati dalam-dalam hanya untuk Sang Pemilik Alam

meruntuhkan segala penat dan kesenduan

bersujud hanya untuk satu nama teragung

dan ketika jingga menutup tabir untuk hari ini,

aku ingin pulang di kala senja

kembali pada kisahku yang terukir di langit

hening dan abadi.

Tampilkan postingan dengan label Aku dan Diriku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku dan Diriku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Agustus 2011

I'll Know Why It Happens To Me One Day

Aku tahu bagaimana semesta menjalankan perannya. Apapun yang kita lakukan, suatu hari nanti akan kembali lagi pada kita. Sesuatu yang entah baik, entah buruk. Bahkan aku percaya, ketika dia kembali, akan lebih banyak kadarnya dibandingkan dengan apa yang pernah kita lakukan.

Hari ini, aku mendapati sesuatu hal yang membuat jantungku seperti ditikam, kembali, sesaat setelah membuka akun facebook milik abangku. Hari ini ada sesuatu yang mendorongku untuk membuka akun facebooknya. Belum lagi semuanya usai, belum lagi aku mampu berdiri setegar sebelumnya. Ujung mata ini sudah ingin kembali menderaskan butir-butir kecilnya. Aku mencoba tetap menengadah dan menghela nafas panjang. Tuhan, aku tak ingin menangis. Tapi sakit sekali rasanya jika itu semua hanya kutelan dalam kebisuan. Apakah aku pernah membuat hidup seseorang menderita, ataukah aku pernah berbuat kesalahan fatal pada hidup seseorang yang membuatnya hancur lebur? Apakah aku pernah datang meminta pada seseorang untuk memaksanya melakukan hal-hal yang tak diinginkannya? Ataukah aku punya kesalahan lainnya? Aku tak pernah berbuat itu semua. Bahkan berniat pun tidak, sama sekali. 

Aku hanya bisa berbincang denganmu, Tuhan. Tak ingin ada orang lain turut menangis bersamaku. Engkau sangat tahu apa yang ada dalam hatiku, bukan? 


Aku tak memahami bagaimana bisa orang lain berbuat sesuatu yang tidak baik kepada seseorang yang bahkan tak pernah menyentuh kehidupannya sebelumnya. Tak pernah berbuat salah padanya. Bagaimana bisa? Aku percaya setiap manusia mempunyai hati nurani. Tapi entah mengapa seseorang yang lemah dan hidupnya penuh perjuangan pun, masih saja ada yang mampu berbuat tidak baik padanya. Sampai saat ini aku masih mempertanyakan hal itu. 

Sulit rasanya menahan air mata ini. Ini bukan tanda kelemahanku, Tuhan, Kau tahu itu. Air mata itu adalah segala rasa sakit yang ditorehkan seseorang. Aku merasa tiba-tiba limbung. Tapi tenang saja, seperti yang Kau tahu, aku pasti akan tetap ceria dalam menjalani hari-hariku. Bagaimana pun keadaanku. 

Aku percaya, Engkau sudah mengatur semesta ini dengan segala perhitunganMu yang tak terbantah. Segalanya selalu berjalan dalam dua arah, kebaikan dan keburukan. Apapun kebaikan yang dilakukan, ia akan kembali seperti bumerang dalam kebaikan yang berlipat. Begitu pun sebaliknya, apapun keburukan yang dilakukan, akan kembali dalam bentuk keburukan yang jauh lebih buruk.

Siapapun dia, aku hanya akan menjatuhkan namanya dalam doa. Karena hanya doa yang tak pernah tersesat. Doa akan langsung menuju padaMu. Hanya padaMu. Terlebih lagi di bulan ramadhan ini. Aku sangat percaya itu.

*Teringatku akan sebuah pesan pendek dari seorang sahabat karibku, "Aku ga tau apa yang lagi kamu alami sekarang De Nill, tapi aku doain supaya kamu bisa melewati ini dengan open heart, open mind :) you'll know why it happens. You'll know why it happens to you one day. Be strong my sister :)".*

Kamis, 28 Juli 2011

Sebuah Keputusan

There's no something special. Hari ini ga jauh beda dengan hari-hari kemarin. Simpel, sangat simpel. Aku bangun pagi hari, melakukan aktivitas-aktivitas ringan seharian, hingga malam kembali dan aku mengakrabinya lagi.

Segalanya berawal dari pagi. Gunawan Muhammad pernah berkata, pada pagi Tuhan membatik kain semesta. Membiarkan daun-daun muncul, burung datang, dan baris-baris menjalani nasibnya. Dan hari ini, dimanakah ujung nasibku? :).

Pagi tadi aku teringat beberapa hari sebelum ini, dimana aku terbangun di sebuah malam dengan rasa haus yang sangat. Namun aku sama sekali tidak bisa bangun dari tempat tidur. Akhirnya mama mengambilkanku segelas air putih dan membantuku untuk duduk. Segera saja pikiranku meloncat ke belakang, saat dulu aku masih sering mengalami kondisi seperti itu. Biarlah, mungkin memang saatnya aku harus mengulanginya. Semoga hanya untuk sejenak, karena aku pasti akan fit kembali :).

Abang sudah berangkat kerja sejak pagi masih sedikit mengantuk. Mama pun akan berangkat menjalankan aktivitasnya, setelah membantuku untuk nge-print selembar surat kuasa. Kuyakinkan mama bahwa aku bisa pergi sendiri ke kantor pos dekat rumah, untuk mengirimkan surat kuasa tersebut kepada seorang sahabatku di kawasan Jakarta Selatan. Setelah mama pergi, aku pun bersiap. Dasar keras kepala, yang tadinya keukeuh untuk pergi sendiri, merasa yakin, ternyata sedikit keok juga di jalan :D. Tancap terus, toh aku pernah mengalami yang jauh lebih buruk daripada ini :). 

Menjelang siang, aku menerima sms dari sahabat karibku yang jauh di seberang pulau sana. Pasti dia kangen sama aku...*Hihi...ngarang abis*. Hanya obrolan ringan seperti biasanya. Sms terus berlanjut sepanjang siang hingga sore. Dari obrolan ringan sampai pada akhirnya kami berbicara tentang sebuah keputusan. Atau pilihan hidup lebih tepatnya. Kami sudah memutuskan sesuatu, yang mungkin bagi kebanyakan orang "normal" di luar sana, pilihan itu tak mampu mereka terima. Jalan yang kami tempuh berbeda, sejak sesuatu datang tiba-tiba dalam hidup kami. Jalan itu tak lagi sama. Pun semuanya turut berubah. Kami tak peduli bagaimana pendapat orang lain, karena mereka tak pernah menjalani apa yang telah kami jalani, itu saja kuncinya. 

Kami hanya melakukan apa yang membuat kami nyaman. Mereka selalu berbicara tentang idealisme. Yeah, idealisme yang memang berlaku bagi mereka, tapi tidak bagi kami. Justru inilah idealisme menurut kami. Inilah realita yang ada di dunia kami. Jalan kita berbeda, begitu pula dengan apapun yang kita hadapi, tentu tak sama. 

So, kami akan berjalan di sisi ini, dimana keputusan itu sudah kami genggam. Kami genggam erat dengan hati, lalu mengirimkannya diam-diam dalam doa yang tak pernah henti. Kelak kami berharap akan berbuah manis. Meski saat itu kami adalah sebuah sosok yang tak lagi mampu berdiri tegak di atas kaki kami sendiri.

Rabu, 27 Juli 2011

Rindu Asinan

Peringatan Keras : Postingan ini ga penting, suer. Tapi kalo masih mau baca juga gpp sih. Selamat menikmati ajaaaa. Sekian dan terima kasih.

Udah berapa hari ini lagi pengen banget sama yang namanya asinan sayuran...waaaa....asinan sayuran yang biasa dijual pake gerobak dorong itu loh. Disiram kuah kacang trus pake kerupuk yang warnanya kuning. Udah lama ga makan asinan itu. Berhubung hampir tiap hari "ngumpet" di dalam rumah terus, jadi ga pernah tau apa ada tukang asinan yang lewat atau ga.... :D. 

Beberapa waktu lalu pas lagi di angkot sama mama, liat ada yang jualan asinan itu. Sampai dua kali pula, ngeledek banget...hahaha. Karena waktu itu MG lagi nakal, lagi ribet banget untuk naik turun angkot, jadilah pake acara ngiler di angkot, sampe dimarahin supirnya, bikin angkotnya banjir...*kalo yang ini asli boong*... :D

Beneran deh, kalo waktu itu lagi fit, bakalan turun cuma buat beli asinan. Sayang sekali. Belom rejeki abang-abang yang jualan kali ya *halah, bilang aja sebenernya belom rejeki lidah sendiri untuk nyicipin asinan...wkwkwk*

Saking pengennya, tiap kali mama atau abang pergi, selalu bilang untuk jangan lupa tengok kanan kiri, kalo-kalo ada pedagang asinan. Kalo liat, tolong salamin, eh bukaaaaan...kalo ada tolong beliin. Beliin gerobaknya, aku mau belajar dorong gerobak......uhuk, makin ga jelas, beliin asinan maksudnya :D. Tapi memang dasar belum berjodoh dengan abang-abang tukang asinan kali ya, eh salah maksudnya belum berjodoh dengan asinan sayuran, yah jadilah musti sabar-sabar menunggu. 

Moga-moga aja ada tukang asinan yang baca trus dia langsung lewat di depan rumah....*haaatchiii...maaf mendadak bersin* :P

Sabtu, 23 Juli 2011

Kalau Saja

Kalau saja dengan menulis, semua perihku luruh, akan kutulis segala yang bermudikan dalam diri ini. Biar lepas semuanya, gugur di udara. Dan aku dapat kembali berdamai dengan malam, melelapkannya dalam secangkir mimpi, tanpa ada rintik dari sudut mata. 

Kalau saja aku menjadi seperti hujan, dapat dengan mudah menghapus jejak yang diciptanya sendiri, akan kudesirkan tiap tetes yang ada, agar segalanya hilang dan tercabut, tak lagi bisa kulihat.

Kalau saja aku bisa mengeluarkan hatiku sendiri, aku ingin membersihkannya, mencuci tiap peristiwa yang bersandar disana, meski lubang-lubang luka itu tak pernah tertutup kembali.

Kalau saja kotak Pandora itu benar-benar ada, aku akan masuk dan berdiam saja di dalamnya, menjadi sebuah fragmen yang menyusun serpihan keheningan.

Kalau saja suaraku menjelma desau angin, akan ada banyak kisah yang mengulur dari bait-bait bahasaku, untuk kemudian berhiliran di antara pucuk-pucuk rumput, sebelum lenyap dalam dirinya sendiri. 

Kalau saja semua kisah benar-benar kembali berulang pada akhirnya, maka biarkan aku duduk sendiri di sini. Kutunggu saja hingga kisah itu berbalik, lalu temukanlah aku yang membatu.

Kalau saja waktu memang dapat diputar, aku takkan memutarnya ke belakang. Akan kuputar cepat ke depan saja, agar hari-hari panjang yang terus melumatku ini segera berujung.

Kalau saja, kalau saja aku mampu melupa, secepat laju kereta....

Sabtu, 16 Juli 2011

Sepanjang Jalan Margonda

Siang yang disemilirkan oleh derap hujan yang jatuh tiba-tiba saat matahari sedang bersemangat menyapu jejalan, aku asyik sendiri mengais-ngaiskan ujung pena pada buku catatan kecil yang kubawa. Pada meja di hadapanku, masih terhampar piring dan gelas sisa makan siang. Persis di seberang meja, adik dari almarhum papaku terlihat serius menelepon seseorang lewat telepon genggamnya. Ada masalah serius rupanya. Aku pun sudah tahu dari cerita yang diluncurkannya beberapa hari lalu. Aku diam saja memperhatikannya berbincang sambil terus menuliskan goresan alfabet. Om ku yang selalu tertawa pada tiap kesempatan. Sebesar apapun masalah yang sedang dihadapinya, tawa tak pernah lepas dari dirinya.


Dengan diboncengi sepeda motor, kami menerobos kebisingan dan kepadatan lalu lintas di siang yang teramat sibuk. Beberapa saat lalu, sebelum kami memasuki sebuah rumah makan, cuaca sangat terik. Lalu seperti laut yang tak dapat diterka, langit dengan derasnya meluncurkan tetes-tetes yang membasahi jalanan. Seperti sebuah hati, tak pernah tahu seberapa besar gemuruhnya dan seberapa dalam palungnya. Tak pernah teraba. 


Saat kami akan melanjutkan perjalanan, langit kembali memunculkan terik yang segera menguapkan sisa-sisa air yang mengalur. Matahari tertawa lebar lagi di atas sana. Namun dimanakah tawaku kali ini?

Kesibukan di sepanjang jalan yang tak pernah letih. Aku menerka-nerka, ada berapa banyakkah wajah yang menyembunyikan luka. Ada berapa banyak rahasiakah di antara ketergesaan yang ada. Ada berapa butirkah janji yang terabaikan. Ada berapa hatikah yang mampu melepaskan. Aha, pertanyaan-pertanyaan yang makin meramaikan sisi jalan raya yang teramat tak lengang. 


Sesekali terdengar suara Om ku dari balik helmnya. Kadang tawanya ikut memecah deru siang yang makin bising. Om ku memang selalu tertawa. Aku pun tertawa. Namun aku tak merasa seperti sedang tertawa. Aku hanya merasa sibuk, dengan diriku sendiri, dengan pikiranku sendiri.


Sepanjang jalan yang meneriakkan bising, ada banyak wajah, ada banyak hati yang tengadah. Wajah-wajah di pinggir-pinggir atau tengah-tengah jalan itu, menyimpan kisahnya masing-masing. Jauh dalam hati-hati nya yang palung, ada banyak suara yang tak pernah mampu untuk didesaukan. Aku meringis, terik yang dilontarkan langit cukup mencubit-cubit kulit. Kubuyarkan semua pikiran itu. Lalu menamatkan mataku pada gerobak-gerobak para penjual makanan dan minuman, kedai-kedai kecil dan besar, beberapa pusat perbelanjaan yang tegap berusaha menggapai awan, trotoar juga pembatas jalan, dan apapun yang menghampar. Sambil sesekali berbincang dengan Om ku, dari balik helm, tak lupa dengan tawanya.

Jumat, 15 Juli 2011

Bincang Malam yang Singkat

Tuhan, malam ini aku capek dan ngantuk sekali. Pejamkanlah mataku. Jangan biarkan aku terjaga seperti malam-malam sebelumnya. Malam-malam panjang dimana aku mengejanya hingga pagi tiba. Aku ingin tidur, melumatkan semua yang terjadi dalam ketidaksadaranku. Setidaknya hanya untuk kali ini saja, biarkan aku lelap lalu melupakan semua peristiwa yang membuatku berteriak tanpa suara dan menciptakan hujanku sendiri. Aku benar-benar lelah. Kutitipkan segala lukaku pada-Mu. Bila Kau berkenan, hapuslah luka-luka itu seperti Kau menyuruh ombak untuk menghapus jejak-jejak kaki di pasir pantai. Bila tidak, tolong bendunglah semua air mataku, agar ia tak lagi membasahi malam-malam ini dan malam-malam nanti.

Selasa, 12 Juli 2011

Suatu Siang di Pusat Perbelanjaan

Siang yang hampir pecah karena kepanasan, aku sendirian saja di rumah. Ditemani beragam pikiran dan perasaan yang meracau tak jelas, tiba-tiba aku terngiang sebuah novel yang beberapa minggu lalu kulihat di sebuah toko buku. Fisikku baru saja pulih. Namun segala hal yang makin rumit membuatku mengabaikannya. Aku memutuskan pergi ke toko buku tersebut, yang terletak di sebuah pusat perbelanjaan.

Ijin pergi sebenarnya tak kudapatkan, mengingat cuaca yang sangat berkeringat, dan aku belum terlalu kuat. Namun beberapa hal yang sedang terjadi mendorong langkah ini untuk tetap pergi, untuk sedikit saja mengalihkan perasaan-perasaan yang membuatku limbung.

Dengan menumpang angkutan kota, aku memilih duduk di depan, di sebelah supir. Aku memang suka duduk di depan. Selain karena sedikit mengalami kesulitan bila harus naik di bangku belakang, aku juga malas bergeser bila ada penumpang lain yang naik. Biasanya aku sibuk dengan handphone atau berbincang kecil dengan si supir. Namun hari itu, sepanjang perjalanan aku mengedarkan pandang ke sisi luar. Seperti mencari sesuatu, tapi aku pun tak tahu apa yang kucari. Kurangkai sendiri kesibukan dalam pikiran. Sedikit berharap agar semua yang telah mengendap dalam pikiranku sebelumnya, dapat terdepak ke luar. Hingga aku tak lagi merasakan nyeri yang ditimbulkannya.

Di pusat perbelanjaan, selalu digilas dengan keriuhan. Aku melihat-lihat tiap hal yang kulewati. Lagi-lagi, seperti mencari sesuatu, dan aku tak tahu apa yang sedang kucari. Kubelokkan saja langkahku langsung menuju toko buku, agar aku tak semakin larut dalam kebimbanganku sendiri.

Aku sempat bertemu dengan Om dan dua adik sepupuku di depan toko buku. Beliau mengajak serta untuk ikut bersama mereka, berkeliling pusat perbelanjaan tersebut. Dengan halus, kutolak ajakannya. Hari itu, aku hanya ingin sendirian saja. Hanya aku dan diriku. Dalam benakku, aku harus terbiasa melakukan apapun sendiri. Tak bergantung pada siapa pun, meski dengan segala keterbatasan yang kumiliki. Sulit memang, tapi aku akan belajar untuk itu. Karena ada kalanya mungkin suatu saat nanti aku akan benar-benar sendirian.

Kuhabiskan banyak waktu diantara buku-buku yang menghampar. Untuk sesaat aku melupakan apa yang sedang terjadi. Aku sangat menikmati saat-saat seperti itu. Membuatku merasa memiliki sebuah dunia yang bisa kupilih sendiri kisahnya. Dari sekian banyak waktu yang telah mengalur, memang hanya sebuah novel yang kubeli. Novel yang selalu terngiang olehku, mendeskripsikan tentang sebuah pencarian. Entah pencarian apa, mungkin pada akhirnya hanya akan melakukan pencarian ke dalam diri sendiri. Bagiku, ada jalan panjang dan berliku yang menjuntai dalam diri ini. Dan itu mesti ditapaki seluruhnya. Ya, seperti kakiku yang menapaki lantai pusat perbelanjaan itu. Setiap satu langkah yang tertinggal di belakang, akan sudah menjadi kenangan yang terserpih. Entah akan menjelma apa ia suatu hari nanti. Dan apakah di ujungnya, semua akan berakhir atau berulang, tapaki saja.
*****
"Sebuah kisah besar dalam hidup seseorang kadang berawal dari satu titik kecil dalam kenangannya". -- Infinitum

Jumat, 08 Juli 2011

Aku Pada Sebuah Siang yang Biasa-Biasa Saja, Mulai Melepas Satu per Satu Sebuah Arti Ketulusan

Bila ini memang peran yang harus kulakoni, akan kuadegani ini dengan sebaik yang mampu kulakukan. Meski perih itu semakin terkais, mengumbai dalam fragmen yang tak kuketahui akan berakhir di perhentian sebelah mana. 
*****
Terpaku aku di sebuah siang yang biasa-biasa saja. Kulihat di luar jendela, dedaunan masih dengan setia membelai angin yang sayup-sayup. Sepertinya mereka juga mencari tahu apa yang sedang berbicara lewat rintik di mataku. Seringkali diam-diam aku menganggap dedaunan, angin, suara kecipak air di akuarium adalah kawan-kawan setia yang menadahkan telapaknya hanya untuk menampung berbagai hal yang tak mampu kutuangkan. Kali ini, aku seperti tercampak ke suatu tempat yang limbung, terkungkung. 

Aku berdiam bila aku memang tak ingin menyampaikan apapun. Kadang, sesungguhnya ada banyak hal yang ingin kusajikan di meja, agar semua yang ada dapat membacanya dengan jelas. Namun banyak hal yang akhirnya membuatku cukup menyimpannya saja, memeluknya lalu melontarkannya pada percakapan-percakapanku dengan-Nya. 

Banyak yang terjadi dalam hidupku, yang akhirnya seringkali membuatku untuk tak menunjukkan siapa diriku yang sesungguhnya. Aku hanya mampu menjadi diriku sendiri, utuh, penuh, lewat aksara-aksara yang berguguran dari jemari ini. Tak ada yang bisa kusembunyikan bila aku sudah mulai menuliskan sesuatu. Pun banyak peristiwa yang mencetakku untuk mencari jawaban atas diriku sendiri. Dalam pencarian itu, kadang aku berkelit menjadi sosok yang ingin dijauhi, dibenci. Lalu kuciptakan skenarioku sendiri agar aku terlihat seperti sebuah pribadi yang keras dan tangguh. Kemudian aku menyadari itu hanya kamuflase untuk menutupi bahwa aku sebenarnya tak jauh berbeda dengan batang pohon yang sudah tua dan melapuk, ringkih. 

Dan pada siang yang biasa ini, aku kembali mengurai bulir-bulir yang makin menderas di mataku. Bukan apa-apa, melainkan karena aku kehilangan sebuah keyakinan yang baru saja mulai kutapaki. Sulit bagiku melepas keyakinan itu, keyakinan pada sebuah ketulusan. Berkali-kali aku ingin menetapkan diri bahwa aku mampu, namun tak pernah berhasil. Hingga sampai pada suatu titik, dimana aku bisa mengalahkan keraguan itu. Kutapaki ia dengan tertatih. Sampai tiba-tiba ada yang mendorongku jatuh tersungkur. Mengeramkan luka yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Luka yang bagiku menjadi luka paling terluka yang pernah ada.

Tuhan, bila memang aku harus menapaki mozaik-mozaik hidupku dengan cara seperti ini, sediakanlah ruang yang jauh lebih besar di hatiku. Untuk menyimpan semua luka yang ada, memeliharanya lalu menguntumkannya hingga berbuah manis dan ranum. Meski bukan aku kelak yang memetiknya. Dan sekali lagi, bila memang peran ini yang harus kulakoni, walaupun dengan kesakitan dan kepedihan, ajarkan aku untuk melakoni setiap sakit dan perih itu dengan sebaik-baiknya diriku. 

Cipayung, ini siang dengan segala hal yang membuatku merasa tercabik.

Rabu, 06 Juli 2011

Di Ujung Sebuah Perlintasan

Masih di ujung jalan yang sama, aku mencoba menafsirkan sendiri perlintasan yang mengurai panjang di belakang. Satu per satu mulai berjatuhan, kemudian waktu memungutinya sehelai, lalu sehelai lagi. Aku berbaik hati dengan waktu, meski ujung jariku siap menetaskan dan meluapkan langsung segala hal yang ada. Lagi-lagi waktu mengajariku untuk tetap berdamai dengan ketergesaan. Sebab itulah akhirnya aku menerjunkan kediaman itu dalam telapak tangan yang menganga, menenggelamkannya pada doa-doa  yang berbaris rapi dalam antriannya menuju langit. Seringkali luka menyusup diantaranya, mempermainkanku seperti desir angin yang berlarian di sela anak-anak rambut.

Menjelang tengah malam guratan ini kutulis di selembar kertas. Di luar, cuaca semakin lembab dan basah. Ujung-ujung hujan meresonansikan aroma sebuah rahasia yang tak berirama. Rahasia tak berpintu. Lalu dari manakah kelak aku akan membukanya?

Seringkali ingin kuterobos saja kedamaian yang ada, ingin kucurangi sang waktu, sehingga aku tak perlu lagi berputar-putar, hanya untuk menemukan pintunya. Namun pada seseorang, telah kusepakati sebuah janji tak tertulis. Sebuah janji tertulus untuk tetap menyimpannya hingga saatnya tiba. Meski tak mampu kujangkau hatinya, aku tahu ia mengulurkannya untuk berjabatan erat dengan hatiku. Karena sebuah alasan yang tak kupahami, seseorang itu kubiarkan masuk menuju diriku sepenuhnya. Sesuatu yang tak terjemahkan, membuatku menggenggam penuh hatinya, lalu kusimpan dalam sebuah ruangan, bersama hati-hati lain yang kugenggam sebagai sahabat. 


Bila nanti ada yang bertanya padaku, kupastikan aku tak pernah mempunyai jawabannya. Aku hanya tahu, ia adalah sahabatku saat ini dan nanti. Jika kau membaca tulisan ini, wahai wanita yang menyimpan rahasia serupa dengan rahasiaku, kau adalah sahabatku.


Hujan semakin memburu, berkejaran dengan detik-detik menuju tengah malam. Aku masih saja mendesau dalam lembar hari yang pekat. Mencoba untuk tetap mengalirkan diri di jalur yang sama seperti sebelumnya, meski aku tahu sepenuhnya bahwa semua tak lagi sama. Semua sangat berbeda.


Di ujung jalan ini, masih dengan sakit yang mengerang, akan ada jalan panjang yang mesti ditapaki. Seberapa pun jauhnya dan seberapa perih pun ia, kutelusuri saja. Akan ada saatnya dimana jalan itu akan berujung.


*****


Cipayung, pada malam yang berhujan.

Minggu, 19 Juni 2011

Pada Satu Titik

Akan ada saatnya kita berdiri pada satu titik untuk menoleh ke belakang. Dan menyadari bahwa kita kuat, ternyata kita bisa melewati tiap luka paling perih pun, dan bahwa sebenarnya kita mampu melewati semuanya.


Sabtu, 18 Juni 2011

Perubahan

Waktu sudah beranjak sekian lama. Kita bukan lagi kanak-kanak kerdil yang berlari menapak musim dengan kaki kecilnya. Cuaca telah berulang kala memutar jarumnya, tak terhitung lagi berapa kali ia memutar. Masih di pelataran yang sama. Kali ini kita menjelma jasad yang bertumbuh dengan tunas pemahaman-pemahaman berbeda. Bukankah itu yang namanya hidup? Tak pernah ada yang terulang persis seperti saat kau menekan tombol di remotemu untuk mengulang adegan sebuah film yang sedang kau tonton. Semua kejadian unik, memiliki tandanya sendiri.

Inilah jalanku. Yang membuatmu sedikit terkejut ketika aku menceritakan semuanya. Bertahun-tahun lalu kita masih berseragam putih merah, lalu perjalanan yang abstrak ini membawa kita berbelok ke arah yang berlainan. Seperti halnya labirin, penuh rahasia, penuh debar, kita menyusuri jejalan yang berjejal itu. Pada akhirnya kita berdiri bersama-sama di pintu keluar. Menggenggam kisah masing-masing, lengkap dengan butiran kenangan yang berjuntai pelan. (Tapi ini bukan akhir, kawan. Masih ada labirin-labirin lain yang harus kita telusuri. Menyesap dalam ketidakabadian ini, untuk kemudian mengakhiri sebelum memulainya kembali).

"Kamu berubah, aku seperti mengenal pribadi lain dari dirimu", katamu padaku. Ya, inilah kehidupan yang selalu menyajikan beragam hal yang terkadang memaksa kita untuk tidak lagi sama seperti sebelumnya. Kau pun berubah, meski menurutmu perubahan itu tak terlalu signifikan ketimbang diriku. Kuterima saja apa pendapatmu, sebab aku pun merasakan demikian. Dan inilah aku, kawanmu dulu dalam wujudnya yang telah bermetamorfosa.

Kita mengingat begitu banyak nama, mencatat beragam peristiwa, menandai kalender-kalender dengan sesuatu yang kita anggap penting. Beberapa diantara nama itu bisa jadi sudah saling melupa. Beberapa dari peristiwa itu bisa saja menjadi identitasmu yang baru hingga hari ini. Melekat erat seakan-akan ia adalah roh keduamu. Bagaimanapun kau memaksanya pergi, ia tetap tak mau pergi. Tubuh kita akan menafsirkannya dengan berjalan beriringan, beradaptasi kembali. Lalu dari sinilah tiba-tiba kau mendapati dirimu bukan lagi dirimu seperti sebelumnya. Realitas yang mesti selalu digerakkan.

Ya, aku memang tak lagi seperti temanmu yang kau kenal dulu. Kau merasa ganjil. Ah, terkadang aku pun terheran-heran dengan diriku sendiri. Sudahlah. Kita di sini untuk saling membuka kotak-kotak yang pernah menyimpan begitu banyak memori. Meski sejenak, cukup membuatku kembali merindukan hari-hari dimana aku menjadi diriku yang dulu. Aku tahu kau pun menikmatinya. Walaupun di penghujung percakapan, kembali kau katakan, "Kamu berubah."

Kau tahu? Ternyata ada dua alasan mengapa seseorang berubah. Mereka telah belajar banyak atau mereka sudah mengalami terlalu banyak penderitaan. Cari aku diantara keduanya.

Sembunyi

Mungkin seringkali aku berhasil menyembunyikan segala perasaan ketika berhadapan dengan orang lain, terutama saat aku merasa segala sesuatunya tak sanggup lagi menahan guguran di mataku. Dengan siapa saja. Aku mungkin bisa tertawa dan berkelakar dengan cuaca, tersenyum pada pagi. Berkali-kali akan kukatakan bahwa aku baik-baik saja. Namun lewat tulisan, aku tak mampu sembunyi dari semuanya. Telapak tanganku selalu mengucurkan kejujuran tentang perasaan-perasaanku. Aku benar-benar kalah telak oleh tulisan yang kujatuhkan sendiri. 

Seorang kawan berkata padaku, akhir-akhir ini dalam karyamu jelas terlihat ungkapan perasaanmu. Aku tersadar. Bagaimanapun aku menghindar dari semua orang, lewat tulisan akhirnya terungkap. Tak mampu aku sembunyi dan berlari kemana pun. Huruf-huruf yang kutorehkan sendiri akhirnya yang menguak. Jejariku sendiri yang mengelupas segalanya hingga tak ada lagi tempat bagiku untuk sembunyi.

Kamis, 16 Juni 2011

Ketika Aksara itu Berjatuhan Dari Jemariku

Ada satu sisi dalam diriku yang entah kenapa selalu diam. Tanpa suara. Tanpa ada yang saling mengeja. Tak pernah terkatakan. Jemariku saja lah yang kerap menjadi kawan setia, bersedia mengucurkan tiap jengkal riwayat yang selalu menyelipkan dirinya itu, jauh di dalam hati. Kadang, bahkan aku pun tak mampu menemukan kedalamannya. Ia telah membentuk jurang-jurang terjal dan curam.


Seperti terbungkam, bibirku tak pernah mampu meluapkan segala hal yang sudah membanjir ingin mengurai. Lagi-lagi, jemariku yang kerap mengumpulkan satu per satu aksara yang mengendap itu.


Aku terbiasa berpesta dalam kesenyapan. Diam dan segala keheningannya adalah menu yang terlampir di meja-meja penyambutan. Guyuran malam seringkali menawarkan dirinya sebagai minuman pencipta kegaduhan yang tak pernah ada. Tak pernah usai.


Selalu di penghujungnya, aku tertinggal sendirian. Bahkan para tanda baca yang cerewet itupun bergegas pergi. Menelusup masuk lewat mata-mata pena. Berdiam disana hingga kugelar kembali pesta kesunyian itu di kemudian hari.

Sabtu, 11 Juni 2011

Happy Birthday To Me

Angka terus berguguran
membentuk anak-anak sungai tak bernama
kemana ia akan berhilir?

Kali ini, selembar angka pecah lagi di udara
dan semua tetap sama
doa-doa tetap terngiang
harap-harap masih berlarian, meski mulai menguncup.

Masih di jalan yang sama pula,
aku berterima kasih.
untuk langit yang menaungi,
untuk pagi yang merekah,
untuk segala tawa, air mata, luka dan sukacita.
lalu berdiam.
Tuhan, tahun nanti masihkah ada sisa angka yang akan kugugurkan?

Senin, 06 Juni 2011

Sebuah Sisi Lain

Seperti dua sisi yang saling berseberangan, aku menemukannya dalam diriku sendiri. Sesuatu yang terlampau entah, sulit dipahami. Tak terkatakan, namun kali ini semua kembali melebur jadi satu. Skeptis. Sudah beberapa lama kata itu tak lagi ada pada keakuanku. Mengingat perlahan aku mulai menyusun serpihan kepercayaan terhadap sesuatu yang sangat sulit untuk kuterima. Namun tetiba meracau tak jelas arahnya, aku menepi. Menepi di jejalan yang aku pun tak tahu rimba. Terlampau jauh aku pergi dari rumah. Hingga mungkin aku tak menemukan jalan untuk kembali pulang. Aku merindu. Pada diriku yang tak peduli lagi terhadap apa-apa selain pagi yang menyusun berlembar harap. Aku merindu. Entah apa atau siapakah yang aku rindui. 

Tak banyak yang kuingin. Aku bangun di pagi hari, lalu memikirkan apa yang akan kulakukan sepanjang hari ini. Seringkali sayup-sayup kejenuhan memanggilku mengadakan pesta dalam kesunyian. Terkadang aku terlarut bersama kumpulan kata-kata dalam sebuah buku, seharian penuh. Sesederhana itu. Tak berarti bagi kebanyakan orang, mungkin. Tapi itupun bukan alasan untuk menjadikan aku sebagai orang yang tak berarti pula bukan?

Terbiasa aku berkawan waktu yang lamban. Ah, waktu adalah hal paling tabah, kupikir. Menerima segala yang tercatat, terlewat bahkan yang terlupa. Tak pernah sedetik pun ia ingin berhenti. Aku juga demikian, menerima semua yang datang dalam hidupku, entah itu hal baru, orang baru atau pengalaman baru. Tanganku terbuka, juga hatiku. Tak mudah bagiku menerima sebuah kehadiran, tapi satu hal yang membedakan aku dengan waktu. Adalah aku yang acapkali ingin berhenti saja sampai disini. Sikap acuh tak acuh dan rasa tak percaya yang dulu kupelihara itu sumbernya. Sikap itulah yang sudah kupangkas habis. Namun sayang, tak kuhabisi ia hingga ke akarnya. Ia mulai menumbuh lagi, menjalar lagi. Kali ini lebih buas menikamku.

Berkali-kali aku mencoba berdiri. Berkali-kali pula aku terjatuh. Bodohnya, ke dalam lubang yang sama. Artinya aku jauh lebih bodoh dari seekor keledai paling bodoh sekalipun. Damn!! Inilah aku. Sebuah pagi yang berharap langitnya memerah seperti senja. Dua sisi yang saling berseberangan. Seperti sepasang rel, yang berjalan sendiri-sendiri tanpa pernah bisa dipersatukan. Tapi aku tak ingin melupa begitu saja, Tuhan. Betapa sulit untuk menghapus jejak-jejak kaki itu. Tak semudah hujan, memang. Ditulisnya cerita dengan ujung kaki di jalanan, lalu dapat dengan mudah dihapusnya sendiri. Segala kisah, keraguan, senyuman, tawa, kelakar juga kegetiran. Aku tak seperti itu. Tidak. 

Dan pada akhirnya aku merasa menjadi sehelai sayap yang kehilangan pasangan sayapnya yang lain. Bisakah aku kembali terbang?

Minggu, 05 Juni 2011

Anak-anak Pagi

Pagi ini ketika aku berbincang dengan segala hal yang bernama kesunyian, terlahirlah kata-kata yang kusebut sebagai Anak-anak Pagi. Mereka berlarian menuju sesuatu yang entah. Sesuatu yang engkau. Sesuatu yang tak lagi nyala. Sesuatu yang ingin kesesap bersama secangkir mimpi semalam yang tak lagi kuingat. Ah, biarkan saja mereka mengapung lalu menderas menjadi kalimat-kalimat tak berhulu, pun tak berhilir. Maka inilah pagiku.

Pagi adalah lentera yang kelak menggenggam tanganku, menuntun lalu menuju diriMu seluruhnya.

Pagi adalah isyarat langit yang belum mampu kuterjemahkan lewat aksara. Aku hanya tahu bahwa ini kali, embun menghilang lagi. Pun waktu. Akan menghilang seiring luka yang terus terlukai.

Pagi adalah doa yang terurai panjang, deras menghujani langit. Dan aku berdiam dengan selembar harap, semoga doa itu tak menguap begitu saja di awang-awang.

Pagi adalah jalan setapak yang menunggu untuk kujejaki, menuliskan kisah hari ini dengan ujung-ujung kaki. Hingga aku lelap nanti.

Pagi adalah tempatku memeram senyum. Siang atau sore nanti hatiku akan menelurkan suka cita yang pelan-pelan jatuh ke tanah, lalu bertumbuh menjadi sebuah pohon, dan aku akan duduk di bawahnya menuliskan senja yang jingga.

Pagi adalah aku. Perempuan yang tak letih memegang janjimu. Erat.

Pagi adalah kesunyian paling akrab yang lahir dari rapalan doa-doa semalam dan pujian-pujian tak beralamat. Kelak akan sampai juga padamu.

Pagi adalah percakapan yang belum terucap, sesungguhnya ia ada untuk menadahkan tangan. meminta hatimu untuk tersenyum sepenuhnya, seluruhnya.

Pagi adalah cara Tuhan untuk menyampaikan kasihNya, yang sungguh, tak mampu dijabarkan oleh satupun teori matematika.

Pagi adalah jalan bersimpang dua. Satu jalan menuju masa lalu, yang lain adalah jalan menuju dirimu yang sejati. Keduanya adalah milikmu. Pilihlah hanya satu.

Pagi adalah satu-satunya cara agar aku mampu melupakan, tanpa meninggalkan.

Pagi adalah suara lantang anak-anak yang berlarian menuju sekolah. Ada pengharapan disana. Ada keceriaan tak beralasan.

Pagi adalah secangkir kopi yang kucecap dengan kisah manis, sedikit getir, ditambah setengah sendok pahit, teraduk bersama sejumput syukur dan segenggam doa.

Pagi adalah buah dari mimpi semalam yang meranum, siap untuk dipetik.

Pagi adalah sebuah janji yang tak lagi utuh. Itu sebabnya tak mampu lagi kukatakan lewat kata, kukalimatkan lewat kalimat. Bahkan kutulis dalam puisi.

Pagi adalah sekop, siap membantumu untuk menutup lubang di hati, yang masih saja dipenuhi luka masa lalu.

Pagi adalah bangku taman, tempatku duduk sambil membaca buku, mendengarkan sabda angin, dan memeluk kenangan yang diam-diam menyusup.

Pagi adalah perempuan yang menyiram bunga di sudut-sudut hatinya. Meminta angin untuk tidak meniup satupun harapannya yang mulai meluruh.

Maka inilah pagi, tempatku dan ingatan-ingatanku, tak pernah usai untuk saling menenun.

Kamis, 31 Maret 2011

Enjoy Everything In My Life

Pertama kali bertemu dengannya di dunia nyata pada tahun lalu, aku lupa bulan apa. Waktu itu, dia lagi dirawat di salah satu Rumah Sakit di kawasan Jakarta Timur. Aku udah lumayan lama kenal dia lewat facebook. Kami sama-sama tergabung dalam komunitas MGI ( Myasthenia Gravis Indonesia ). Tapi selama itu obrolan kami ga berlangsung intens. Hanya sesekali aja saling menyapa. Hari itu, aku minta ijin mama untuk ikut beberapa teman anggota MGI untuk menjenguk dia di rumah sakit. Karena mama udah capek, satu hari sebelumnya kami seharian seru-seruan di Dufan, mama bilang ga kuat lagi kalau harus ke rumah sakit. Apalagi seingatku, cuaca emang lagi panas-panasnya. Karena merasa bisa, aku minta ijin ke mama untuk pergi sendiri aja. Awalnya mama ga mengijinkan. Aku ga pernah pergi kemana-kemana sendiri. Terlebih lagi dengan cuaca sepanas itu, bisa-bisa aku jatuh di jalan dan ga bisa berdiri lagi :D. Tapi aku tetep "keukeuh" bilang ke mama kalau aku bisa pergi sendiri. Kebetulan abang saat itu mau pergi ke daerah Cawang. Aku nebeng deh sampai di depan rumah sakit. Singkat cerita, aku sukses deh , di rumah sakit juga bisa jalan sendiri sampai ketemu dengan beberapa teman yang sebelumnya udah janjian di sana. 

Aku ga banyak ngobrol dengan dia waktu itu. Dia malah asik cerita tentang kondisinya. Aku lebih banyak diam. Ga lama, aku pulang dan again!! Sukses naik angkot sendiri..hehe..Itu rekor pertamaku pergi sendirian :D

Februari lalu, berawal dari obrolan tentang Jamkesmas dan SKTM di facebook, membuat kami berkomunikasi kembali dengan lebih intens. Ternyata rumah sakit tempatku biasa kontrol juga sama dengan dia. Aku menggunakan SKTM untuk mendapatkan obat yang harganya bikin penyempitan pembuluh dompet. Dia pun ingin menggunakan fasilitas yang sama denganku. Beberapa hari kemudian, setelah kuberi tahu semua persyaratannya, kami berjanji bertemu kembali di rumah sakit tersebut ( rumah sakit yang sama saat dia dirawat dulu ). 

Sembari menunggu di polisaraf, kami banyak ngobrol tentang kondisi masing-masing. Sampai-sampai menarik perhatian beberapa orang yang duduk berdekatan dengan kami. Tak jarang, di sela-sela obrolan kami harus menjelaskan dulu tentang Myasthenia Gravis pada orang-orang tersebut. Salut. Itu satu-satunya kata yang kuberikan untuknya. Myasthenia Gravisnya jauh lebih parah daripada aku. Setelah semua yang dia lalui, aku benar-benar melihat keikhlasan dan kepasrahan yang luar biasa dari dirinya. Bagi beberapa orang mungkin dia terlihat cuek, maklum juga apalagi dia cowok. Ga ada kata-kata mutiara yang mengalir dari mulutnya. Kata-kata mutiara yang biasa diucapkan oleh banyak orang termasuk diriku untuk memotivasi...hmmm...lebih tepatnya untuk menghibur diri sendiri. Dia hanya menjalani semua yang musti dia hadapi. Ga ada ketakutan atas apapun yang mungkin terjadi kelak. Mungkin karena dia sudah pernah mengalami hal terburuk dalam hidupnya, jadi dia ga pernah takut lagi untuk hal-hal buruk apapun itu. Dia berusaha semampunya, tapi dia pasrah, sepasrah-pasrahnya untuk apapun hasil yang akan diperoleh. Hebat. 

Jujur dari hati terdalam, aku belum bisa sepenuhnya ikhlas dan memasrahkan semua pada-Nya. Sampai akhirnya aku bertemu dengannya hari itu. Dia mengajarkanku tentang arti keikhlasan dan kepasrahan sesungguhnya. Kepasrahan yang bukan berarti diam tanpa berusaha, tapi kepasrahan yang dilakukan setelah berikhtiar seoptimal mungkin. Aku belajar bukan dari seorang guru agama, ustadz, ustadzah atau siapapun itu. Tapi aku mendapat pelajaran berharga itu dari seorang pasien Myasthenia Gravis yang pernah berada di ujung kematian. Seorang pasien Myasthenia Gravis yang harus selalu menyediakan tabung oksigen walaupun hanya di rumah.

Semua jempol untuk dia deh. Dia mengajarkan banyak padaku. Dan aku pun harus bisa seperti dia. Harus. Aku sudah sampai pada titik dimana tidak berharap untuk hasil apapun lagi. Serahkan pada-Nya. Berusaha melakukan yang aku bisa, yang terbaik yang bisa kulakukan meski tak banyak. Memberi sebatas kemampuan yang kupunya. Jalani saja semuanya. Yang penting makan dan minum cukup, mestinon ( obat-obatan cukup ). Kalau ada yang berbaik hati, disyukuri. Kalau ada yang datang, diterima dengan baik. Kalau ada yang pergi, pergilah. Toh hidup ini memang selalu ada yang datang dan pergi.. Menerima semua kesakitan, kekecewaan, kehilangan, kejatuhan dan lain-lain sebagai pupuk yang menguatkan hati dan jiwa. Just enjoy everything in my life :). 


Sabtu, 19 Februari 2011

Semua Tetap Sama, Rinai

Hujan menguyup, Rinai
Bulan tak jadi datang malam ini
Mungkin ini kali kau akan sendirian memejamkan hatimu
Setelah semua yang kau lepas
yang paling berharga dari dirimu
Entah, semua tak ada bedanya

Tak ada.
Meski suatu hari nanti kau siap meluruhkan semua yang ada di genggamanmu
Tetap tak ada beda
Sebab kau tetaplah Rinai
Matamu selalu menderas
Tak ada jeda..

Minggu, 14 November 2010

Selalu Ada Pilihan

Ada yang udah nonton film Mutiara Hitam? Satu dari rangkaian film televisi 20 Wajah Indonesia yang diproduksi oleh salah satu stasiun televisi swasta, yang bercerita tentang perjuangan anak-anak Papua untuk menggapai cita-cita mereka. Aku ga tau persis ceritanya seperti apa karena udah telat nontonnya ( Padahal udah pasang alarm. Tapi ternyata alarmnya diset satu hari setelah tanggal penayangan film tersebut. Inget hari tapi lupa tanggal.. -___- ) *tuing tuing...*

Salah satunya ada yang bercita-cita ingin pergi ke Jakarta dan menjadi seorang pemain sepak bola. Namun keinginannya ditentang oleh sang ayah karena menurutnya seorang atlit itu pada akhirnya tidak dihargai. Bahkan banyak atlit nasional yang saat ini karirnya berakhir dengan menjadi satpam, pedagang asongan, dan lain sebagainya. Sang ayah sendiri adalah mantan atlit, yang sedikit kecewa dengan perlakuan pemerintah. Dulu, ia dihargai karena menganggap telah mengharumkan nama bangsa. Namun saat ini ia hanya seorang nelayan Papua yang dikenal oleh orang-orang kota sebagai "Pembom Ikan". 

Ga terlalu banyak adegan film yang nempel. Selain karena udah telat, aku nonton sambil ngobrol di telfon dengan seseorang yang udah insaf begadang "katanya".... :P. Juga karena aku terlalu terbuai dengan keindahan Kepulauan Raja Ampat yang menjadi latar belakang film tersebut.

Terlepas dari semuanya, ada satu dialog yang membuatku tertegun sejenak. Seorang istri yang mengatakan pada suaminya bahwa tak ada penyesalan baginya karena telah memilih dia menjadi suaminya. Kira-kira dialognya seperti ini : " Harapan yang membuat saya bertahan sampai saat ini. Dan saya tidak pernah menyesal dengan apa yang telah saya pilih."

Pilihan. Hidup itu penuh dengan pilihan bukan? Berbicara tentang pilihan, lalu bagaimana dengan orang-orang yang dilahirkan dengan berbagai "keistimewaan", misalnya terlahir dengan kondisi tidak bisa melihat, tidak mampu berbicara, tangan atau kaki yang tidak tumbuh dengan sempurna dan berbagai kondisi lainnya. Bagaimana pula dengan orang-orang yang tadinya hidup normal, tiba-tiba dihadapkan pada keterbatasan yang akhirnya membuat hidupnya "terbatas" baik secara fisik atau non fisik. Apakah itu pilihan? Sama sekali bukan. Bahkan mungkin ada anggapan bahwa mereka "terpaksa" untuk menjalani pilihan yang telah dibuat oleh Tuhan. Benarkah demikian? Dulu, aku pasti menjawab "iya". Tuhan kok ga adil banget ya, memaksakan sesuatu yang tidak kita sukai. Dan dulu pula, ketika aku tenggelam dalam pemikiran seperti itu, aku dituntun untuk membaca sebuah tulisan yang akhirnya menjadi titik tolakku untuk bangkit dari keterpurukan. 

Tulisan itu berisi tentang seorang ibu berusia 31 tahun yang lumpuh karena tumor tulang belakang. Suatu hari ia mengirimkan surat kepada seorang narapidana yang bernama Waymon. Berikut isi suratnya :

Waymon yang terkasih,
Saya ingin Anda tahu bahwa saya terus memikirkan Anda sejak menerima surat Anda. Anda bercerita tentang betapa sulit hidup di balik jeruji besi, dan hati saya selalu beserta Anda. Tapi ketika Anda mengatakan bahwa saya mustahil membayangkan rasanya dipenjara, saya merasa terdorong untuk menjawab bahwa dugaan Anda salah.

Kebebasan ada bermacam-macam, Waymon. Begitu pula penjara. Kadang-kadang penjara kita tidak seperti yang dibayangkan oleh banyak orang.

Pada usia 31 tahun, suatu hari saya terbangun dan menemukan bahwa saya lumpuh total, saya merasa terperangkap, merasa seolah-olah dipenjara dalam tubuh yang tidak lagi memungkinkan saya berlari memintas padang penggembalaan atau berdansa atau menggendong anak saya. Untuk waktu yang lama saya terbaring demikian, berusaha tidak tenggelam dalam sikap iba diri. Saya bertanya kepada diri sendiri tentang apa enaknya hidup dalam keadaan demikian, bukankah akan lebih baik bila saya mati? Saya terus memikirkan keadaan keterpenjaraan ini, karena bagi saya seolah-olah telah kehilangan segala sesuatu yang berarti dalam hidup saya. Saya hampir putus asa.

Akan tetapi kemudian, pada suatu hari datanglah suatu kesadaran dalam diri saya bahwa, sesungguhnya, masih ada beberapa pilihan yang terbuka bagi saya dan bahwa saya mempunyai kebebasan untuk memilihnya. Haruskah saya tersenyum ketika bertemu anak-anak saya lagi atau haruskah saya menangis? Haruskah saya menyumpahi Tuhan atau sebaliknya memohon kekuatan tambahan kepada-Nya? Saya berusaha untuk memutuskan dan berusaha, selama hayat masih dikandung badan, untuk hidup semampu saya, untuk mencari cara mengubah pengalaman-pengalaman yang tampaknya negatif menjadi pengalaman-pengalaman positif, untuk mencari cara mengubah keterbatasan-keterbatasan fisik saya dengan memperluas cakrawala mental dan spiritual saya. Saya dapat memilih untuk menjadi teladan yang positif bagi anak-anak saya, atau menenggelamkan diri ke ketidakberdayaan dan mati, baik secara emosional maupun fisik.

Ada bermacam-macam kebebasan, Waymon. Bila kita kehilangan salah satu kebebasan, kita hanya tinggal mencari kebebasan yang lain.

Anda dan saya masih dikaruniai kebebasan memilih buku-buku yang baik, mana yang akan kita baca, mana yang akan kita singkirkan.

Anda dapat memilih melihat ke jeruji, atau melihat lewat jeruji. Anda dapat menjadi teladan bagi mereka yang lebih muda, atau bergabung dengan para pembuat onar. Anda dapat memilih mencintai Tuhan dan berusaha mengenal-Nya lebih baik, atau berpaling memunggunginya.

Bagaimanapun, Waymon, kita sama-sama menjalani keadaan ini.

-------------------------------------------------------------------

*Tertulis bahwa buku itu dibeli tahun 2001. Aku ingat saat itu masih libur setelah baru aja lulus SMP. Mama membelikan buku untuk mengisi waktu libur yang saat itu kuhabiskan di rumah, bolak balik rumah sakit dan tempat pengobatan alternatif*

Sampai sekarang, buku itu masih kusimpan. Kubaca ulang ketika aku nyaris lupa dengan pilihan-pilihan yang tersaji di sekelilingku. Apapun itu, apa pilihanmu hari ini kawan? ^_^

*Menulis sambil menyimak lagu "Ya Sudahlah" yang nyaring terdengar dari handphone abang yang lagi asik nyuci motornya ( untung bukan lagu India ) :D. Ketika mimpimu yang begitu indah, tak pernah terwujud, ya sudahlah. Saat kau berlari mengejar anganmu, dan tak pernah sampai, ya sudahlah. Apapun yang terjadi, ku kan slalu ada untukmu. Janganlah kau bersedih, cause everything is gonna be ok...( menyanyi dengan suara merdu kaya' kaleng dibanting )*

Selasa, 09 November 2010

Garuda ( Tak Lagi ) Di Dadaku



Ia memilih untuk menjadi burung-burung kertas dalam kelas membuat origami
Katanya : " Kertas tak punya hati, tak mampu merasakan tangis dan ketidakadilan yang sedang melanda negeriku.
Maka biarkan aku terbang dari dadamu
dan tak lagi merasakan semua kepedihan itu "