aku mencintai jingga

saat semesta dinaungi semburat yang mempesona

jingga, semesta menjingga

ketika lamat-lamat suara adzan menghitung detak jantung,

mengukir sebuah kata perpisahan kepada hari

wahai senja..

terimalah aku sebagai kabut

setia menantimu menyambut malam

menundukkan hati dalam-dalam hanya untuk Sang Pemilik Alam

meruntuhkan segala penat dan kesenduan

bersujud hanya untuk satu nama teragung

dan ketika jingga menutup tabir untuk hari ini,

aku ingin pulang di kala senja

kembali pada kisahku yang terukir di langit

hening dan abadi.

Tampilkan postingan dengan label Jejak Langkah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jejak Langkah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Agustus 2011

A Day With My Soulmates

Pagi yang mulai kesiangan, iseng kubuka twitter lewat handphone, ternyata ada mention sudah sekitar 1 jam sebelumnya dari Dyani, "Nilla, tolong sms in nomer kamu yg satu lagi dong...yg aku save ga bisa disms nihh". Baru inget kalau sejak semalam, aku ganti kartu pake kartu yang biasa dipake buat modem :D. Langsung aja kuaktifin lagi nomor yang biasa. Intinya, Dyani ngajak ketemuan di "basecamp" nya YMGI (Yayasan Myasthenia Gravis Indonesia), karena hari ini ada peliputan dari sebuah majalah nasional tentang Myasthenia Gravis dan Rumah Kriyanya. Awalnya mama agak keberatan, tapi akhirnya dibolehin juga dengan catatan, harus diantar! Lagi-lagi, seperti biasa aku meyakinkan mama bahwa aku bisa pergi sendiri. Padahaaaal, aku sama sekali "buta" untuk daerah Depok dan sekitarnya :D....*kebetulan sekali hari ini aku belum berpuasa*.

Nekat, tapi akhirnya suksessss *joget-joget* :D. Sedikit penuh perjuangan..hufftt. Siang yang panas menyengat, tapi aku terus meyakinkan diri bahwa aku kuat, aku pasti bisa. Semuanya berjalan mulus, naik turun angkot yang sampai beberapa kali, belum lagi nyebrang di jalan raya yang bising dan ramai, plus lagi matahari yang tertawa lebar di atas sana.

Untuk pertama kalinya aku (mem ) berani (kan) untuk pergi sendiri ke "basecamp" YMGI * dan untuk pertama kalinya juga diijinkan mama*. Dikarenakan jarak yang cukup jauh dan kendaraan yang cukup sulit untuk kujangkau. Alhamdulillah, ga pake acara jatoh ngedeprok di jalan :D. Semua baik-baik saja. Sebuah prestasi yang cukup membanggakan buatku *hehe...lebay*.

Hari ini, kembali membuatku merasa lebih "hidup". Ga hanya karena bisa pergi sendiri, tapi bisa berkumpul dengan para belahan jiwaku, my soulmates. Ngobrol bareng sama mas wartawannya, sharing *selalu*, belajar ngejahit, walaupun cuma bisa ngerecokin Teh Tina..haha...*payah*. Jadi ga yakin bisa ikutan eRKa YMGI (Rumah Kriya YMGI) :D

Sepulangnya dari sana, mampir dulu sama Dyani mau beli es pocong tapi sayangnya belum buka >.<. Malah muter-muter dulu sebentar nyari mp3 buat "soulmate" MG lain yang masih dirawat di RS, masih pake ventilator :(.

Siang sudah mulai menetas menjadi sore, tapi udara masih meleleh, aku dan Dyani juga hampir meleleh kepanasan. Belum lagi kesemrawutan jalanan dan terminal yang dilewati, makin bikin njelimet. Tapi tetep dibawa asik aja. Kami malah asik ngobrol, hingga sampai pada sebuah topik yang ga jauh beda dengan yang pernah kubicarakan dengan sahabatku beberapa waktu lalu ( ada disini ). Hehey...makin membuatku merasa "enteng" untuk menjalankan keputusan tersebut :). I'm not alone. Seberapa pahit pun yang aku alami, aku masih mempunyai mereka, my soulmates, MGers. 

Sedikitnya aku mulai mengetahui untuk apa aku bertahan sampai sejauh ini, meski masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Setidaknya mulai memberikan jawab atas perbincanganku dengan seseorang pada suatu waktu, di " Sebuah Obrolan ".

*Btw, hari ini aku mendapatkan beberapa ucapan selamat dari beberapa orang...ahaha....sampai segitunya yaaaa. Mereka turut senang karena aku bisa pergi sendirian lagiii... :D. Tapi eh tapi, Ibunya Athia bilang, "Wah, hebat ke BunRit sendiri. Tapi masih hebatan aku dari Manado-Malang sendiri", huaaaa....awass ya Buuuuu :P*

Sabtu, 30 Juli 2011

Keajaiban Kecil

Entah kali keberapa kulewati pertemuan dengan keluarga besar MGers. Terakhir aku tak ingat pastinya kapan, akhir Juni atau awal Juli, saat rapat pengurus sekaligus syukuran atas berdirinya yayasan. Beberapa pertemuan berikutnya tak bisa kuhadiri mengingat kondisi yang belum sepenuhnya pulih. Sedikit berharap bisa berkumpul dengan teman-teman, meski agenda yang dijadwalkan bukan mengenai yayasan, melainkan sebuah kegiatan yang nantinya juga akan berkontribusi untuk yayasan MG. Selain pastinya ga akan diijinkan, aku pun belum sanggup rasanya. Pertemuan terakhir saja mesti kulewati dengan banyak berbaring di sofanya Bunda, sang empunya basecamp. Tentu saja, masih ngobrol dengan MGers sampai menjelang Maghrib...*tetep ga tau diri dengan kondisi fisik..hehe* *untungnya dianter pulang sama Mba Anggi....hugs*.

Saat itu aku mengalami kelelahan luar dalam. Semalam sebelumnya aku benar-benar tak bisa memejamkan mata sama sekali. Pukul 6 pagi, aku sudah bersiap menuju sebuah kawasan di Jakarta Selatan, sendirian dengan menumpang angkot. Setibanya disana, dengan lelah yang "berusaha" untuk tidak dirasakan, teteeeeep naik-naik tangga ke ruangan di lantai 2 kediaman sahabatku untuk membantunya mempersiapkan bahan-bahan yang akan dibahas untuk rapat pengurus nanti. Tak lama, kami menuju kawasan Depok, tempat pertemuan akan diadakan.

Hari itu ada atmosfer berbeda dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Bagaimana tidak, akhirnya yayasan yang selama ini kami idam-idamkan akhirnya sudah terbentuk, meski kami menyadari, jalan panjang dan sulit masih harus ditempuh.

Lelah bertambah karena harus memeras otak sampai kering saat rapat *haha....terjun bebas...plung!! eh itu nyemplung ya?? -_-"*. Siang harinya saat syukuran, banyak MGers yang baru bergabung. Namun seperti biasa, kami sudah seperti keluarga. Satu sama lain langsung berakrab ria walaupun banyak diantaranya yang baru bertemu. Sementara aku, masih bersusah payah untuk menyembunyikan perasaan yang kacau dan tetap mencoba untuk "terlihat" fit. Tapi aku lupa, mungkin aku bisa berpura-pura di depan orang lain, tapi tidak di depan MGers..hehe...Ya jelaslah mereka tau persis kalau aku dalam kondisi yang tidak fit. Bahkan salah seorang dari keluarga besar MG ku itu memprediksi bahwa aku akan ngedrop. Benar saja, keesokan harinya aku benar-benar ngedrop. 

Hari ini, masih dengan menyimpan banyak pertanyaan dan masih "amburadul" :D, yang juga membuatku makin menjauhkan diri dari media tempatku biasa bersosialisasi, aku pergi menemui seorang sahabatku yang lain. Salah satu dari orang-orang yang "tidak biasa" dan memiliki kisahnya sendiri tentang perjuangan yang sama sekali tidak mudah. I called her "Itik", and she called me "Marmut". Tanya kenapa? Ga usah banyak nanya!! Baca aja terus!!...hahaha...galak bener...*piss ah*.

Aku hanya butuh seseorang untuk menemani satu hari saja. Terlebih lagi besok lusa sudah memasuki bulan Ramadhan, dan aku ga akan bisa kemana-mana sebulan penuh kecuali dalam keadaan tidak berpuasa atau sengaja membatalkan puasa :D. Entah kenapa, aku hanya ingin bertemu dengannya, memastikan bahwa aku memiliki sahabat yang benar-benar ada di sampingku, meski aku tak banyak bicara tentang apa yang ada dalam hati dan pikiranku. Cukup bagiku untuk duduk bersamanya, berbicara mengenai hal-hal sederhana, sembari makan siang bersama, tersenyum, tertawa lepas, seakan tak memiliki beban apapun. Seolah kami tak pernah merasakan sakit sebelumnya. Dapat dikatakan "Itik" lah yang lebih banyak bercerita tentang dirinya. Seperti biasa, aku memilih untuk menjadi pendengar yang baik saja dan memberikan masukan yang dibutuhkannya. Itu saja sudah membuatku merasa "hadir" dalam hidup seseorang.

Keputusan yang benar. Ya, keputusanku untuk bertemu dengannya hari ini. Ternyata sahabatku itu sedang memiliki sbuah masalah dan membutuhkan seseorang untuk mendengarkannya. Aku bahagia karena aku lah orang yang ada untuknya, sebagai sahabatnya.

Aku pulang dengan perasaan yang lebih lega, padahal aku tak bercerita apapun tentang hal-hal yang mengganggu pikiran dan hatiku padanya. Aku tersadar bahwa ketika kita berbagi dan memberikan pertolongan pada orang lain, saat itu pula kita juga menolong diri sendiri. Berbagi dan menolong bukanlah sebuah kewajiban, melainkan adalah sebuah kebutuhan. Demi menyembuhkan diri sendiri, menyelamatkan hati dan memperbaiki hidup. Keajaiban berbagi :).

Teringatku pada sebuah hal, bahwa kebaikan tak pernah berjalan lurus sendirian, dia selalu berjalan dalam dua arah.

And there's a miracle for me today. Hanya keajaiban kecil namun ada senyum yang bergetar di hatiku. Thanks God :).

Sabtu, 16 Juli 2011

Sepanjang Jalan Margonda

Siang yang disemilirkan oleh derap hujan yang jatuh tiba-tiba saat matahari sedang bersemangat menyapu jejalan, aku asyik sendiri mengais-ngaiskan ujung pena pada buku catatan kecil yang kubawa. Pada meja di hadapanku, masih terhampar piring dan gelas sisa makan siang. Persis di seberang meja, adik dari almarhum papaku terlihat serius menelepon seseorang lewat telepon genggamnya. Ada masalah serius rupanya. Aku pun sudah tahu dari cerita yang diluncurkannya beberapa hari lalu. Aku diam saja memperhatikannya berbincang sambil terus menuliskan goresan alfabet. Om ku yang selalu tertawa pada tiap kesempatan. Sebesar apapun masalah yang sedang dihadapinya, tawa tak pernah lepas dari dirinya.


Dengan diboncengi sepeda motor, kami menerobos kebisingan dan kepadatan lalu lintas di siang yang teramat sibuk. Beberapa saat lalu, sebelum kami memasuki sebuah rumah makan, cuaca sangat terik. Lalu seperti laut yang tak dapat diterka, langit dengan derasnya meluncurkan tetes-tetes yang membasahi jalanan. Seperti sebuah hati, tak pernah tahu seberapa besar gemuruhnya dan seberapa dalam palungnya. Tak pernah teraba. 


Saat kami akan melanjutkan perjalanan, langit kembali memunculkan terik yang segera menguapkan sisa-sisa air yang mengalur. Matahari tertawa lebar lagi di atas sana. Namun dimanakah tawaku kali ini?

Kesibukan di sepanjang jalan yang tak pernah letih. Aku menerka-nerka, ada berapa banyakkah wajah yang menyembunyikan luka. Ada berapa banyak rahasiakah di antara ketergesaan yang ada. Ada berapa butirkah janji yang terabaikan. Ada berapa hatikah yang mampu melepaskan. Aha, pertanyaan-pertanyaan yang makin meramaikan sisi jalan raya yang teramat tak lengang. 


Sesekali terdengar suara Om ku dari balik helmnya. Kadang tawanya ikut memecah deru siang yang makin bising. Om ku memang selalu tertawa. Aku pun tertawa. Namun aku tak merasa seperti sedang tertawa. Aku hanya merasa sibuk, dengan diriku sendiri, dengan pikiranku sendiri.


Sepanjang jalan yang meneriakkan bising, ada banyak wajah, ada banyak hati yang tengadah. Wajah-wajah di pinggir-pinggir atau tengah-tengah jalan itu, menyimpan kisahnya masing-masing. Jauh dalam hati-hati nya yang palung, ada banyak suara yang tak pernah mampu untuk didesaukan. Aku meringis, terik yang dilontarkan langit cukup mencubit-cubit kulit. Kubuyarkan semua pikiran itu. Lalu menamatkan mataku pada gerobak-gerobak para penjual makanan dan minuman, kedai-kedai kecil dan besar, beberapa pusat perbelanjaan yang tegap berusaha menggapai awan, trotoar juga pembatas jalan, dan apapun yang menghampar. Sambil sesekali berbincang dengan Om ku, dari balik helm, tak lupa dengan tawanya.

Selasa, 12 Juli 2011

Suatu Siang di Pusat Perbelanjaan

Siang yang hampir pecah karena kepanasan, aku sendirian saja di rumah. Ditemani beragam pikiran dan perasaan yang meracau tak jelas, tiba-tiba aku terngiang sebuah novel yang beberapa minggu lalu kulihat di sebuah toko buku. Fisikku baru saja pulih. Namun segala hal yang makin rumit membuatku mengabaikannya. Aku memutuskan pergi ke toko buku tersebut, yang terletak di sebuah pusat perbelanjaan.

Ijin pergi sebenarnya tak kudapatkan, mengingat cuaca yang sangat berkeringat, dan aku belum terlalu kuat. Namun beberapa hal yang sedang terjadi mendorong langkah ini untuk tetap pergi, untuk sedikit saja mengalihkan perasaan-perasaan yang membuatku limbung.

Dengan menumpang angkutan kota, aku memilih duduk di depan, di sebelah supir. Aku memang suka duduk di depan. Selain karena sedikit mengalami kesulitan bila harus naik di bangku belakang, aku juga malas bergeser bila ada penumpang lain yang naik. Biasanya aku sibuk dengan handphone atau berbincang kecil dengan si supir. Namun hari itu, sepanjang perjalanan aku mengedarkan pandang ke sisi luar. Seperti mencari sesuatu, tapi aku pun tak tahu apa yang kucari. Kurangkai sendiri kesibukan dalam pikiran. Sedikit berharap agar semua yang telah mengendap dalam pikiranku sebelumnya, dapat terdepak ke luar. Hingga aku tak lagi merasakan nyeri yang ditimbulkannya.

Di pusat perbelanjaan, selalu digilas dengan keriuhan. Aku melihat-lihat tiap hal yang kulewati. Lagi-lagi, seperti mencari sesuatu, dan aku tak tahu apa yang sedang kucari. Kubelokkan saja langkahku langsung menuju toko buku, agar aku tak semakin larut dalam kebimbanganku sendiri.

Aku sempat bertemu dengan Om dan dua adik sepupuku di depan toko buku. Beliau mengajak serta untuk ikut bersama mereka, berkeliling pusat perbelanjaan tersebut. Dengan halus, kutolak ajakannya. Hari itu, aku hanya ingin sendirian saja. Hanya aku dan diriku. Dalam benakku, aku harus terbiasa melakukan apapun sendiri. Tak bergantung pada siapa pun, meski dengan segala keterbatasan yang kumiliki. Sulit memang, tapi aku akan belajar untuk itu. Karena ada kalanya mungkin suatu saat nanti aku akan benar-benar sendirian.

Kuhabiskan banyak waktu diantara buku-buku yang menghampar. Untuk sesaat aku melupakan apa yang sedang terjadi. Aku sangat menikmati saat-saat seperti itu. Membuatku merasa memiliki sebuah dunia yang bisa kupilih sendiri kisahnya. Dari sekian banyak waktu yang telah mengalur, memang hanya sebuah novel yang kubeli. Novel yang selalu terngiang olehku, mendeskripsikan tentang sebuah pencarian. Entah pencarian apa, mungkin pada akhirnya hanya akan melakukan pencarian ke dalam diri sendiri. Bagiku, ada jalan panjang dan berliku yang menjuntai dalam diri ini. Dan itu mesti ditapaki seluruhnya. Ya, seperti kakiku yang menapaki lantai pusat perbelanjaan itu. Setiap satu langkah yang tertinggal di belakang, akan sudah menjadi kenangan yang terserpih. Entah akan menjelma apa ia suatu hari nanti. Dan apakah di ujungnya, semua akan berakhir atau berulang, tapaki saja.
*****
"Sebuah kisah besar dalam hidup seseorang kadang berawal dari satu titik kecil dalam kenangannya". -- Infinitum

Senin, 06 Juni 2011

Catatan Kecil Selepas Maghrib

Sehabis Maghrib, aku duduk bertiga di teras rumah dengan mama dan abang. Ga ada obrolan serius sih, hanya saling berbagi cerita yang kami lewati, diselingi sedikit canda dan tawa kecil. Aku baru menyadari, setelah beberapa lama baru kali ini kami bisa berkumpul lagi seperti ini. Rutinitas mama dan abang lah yang terkadang membuat kebersamaan itu terlewat. Aku bercerita pada abang tentang bagaimana perjalananku ke sebuah tempat di daerah Bidara Cina bersama mama siang tadi. Untuk kali ini aku hanya membutuhkan obat (mestinon) sebutir saja. Wow!! Biasanya, paling tidak aku mengkonsumsi 2-3 butir untuk perjalanan ini. Padahal hari itu aku mengalami kelelahan fisik (juga hati dan pikiran).. :D *tewewew*. Ga hanya itu, aku musti naik-naik dan turun tangga jembatan Busway, sendiri. Yup, sendiri boooo. Horeeee :)). Ditambah lagi dengan sengatan matahari yang cukup membuat kepala dan ubun-ubun meleleh-leleh...*halah lebay*. Walaupun masih sedih karena beberapa hal yang terjadi, pengalaman siang itu cukup menghibur dan bisa membuatku cengir-cengir (kaya' kuda) dan bisa menularkan senyum ke mama plus abang. Na..na...na...

Di tengah obrolan, tiba-tiba aku nyeletuk, "Diantara kita siapa yang lebih dulu pergi ya?". Seketika mama dan abang menoleh ke arahku. Refleks, kuangkat jari tengah dan telunjuk membentuk huruf V sambil berkata "peace", dan ga lupa nyengir kudanya :D.

Bukan tanpa alasan aku bertanya demikian. Tapi mendadak pikiranku berhamburan ke masa dimana papa masih ada. Berkumpul dan saling bercerita di teras rumah adalah rutinitas keluarga kecil kami. Dan ketika papa pergi untuk selamanya, aku sampai pada titik dimana kerinduan itu membuncah, benar-benar ingin menamatkan dirinya sebagai hujan, yang mengalir di sudut mata. Hiyaaaa....kangen papa :).

Nah, pasti dong akan ada saatnya salah satu diantara kami kelak akan pergi. Kematian itu pasti bukan? Bukan kematian yang membuatku takut, sampai harus ngumpet kesana kemari, sembunyi dalam dompet atau karung beras, menyusup ke balik bantal atau kotak makan siang.. -_-" *ga jelas*. BUKAN!! Tapi lebih karena aku ga sanggup menghadapi kehilangan. Kehilangan orang-orang yang aku sayang. Yah, kalo aku duluan yang pergi sih ga apa-apa. Kalo aku yang ditinggal? Nooooo, i can't imagine that!! Huks...huks...Udah ah, plis plis jangan nangis lagi. Udah cukup nangis dua hari berturut-turut...ehehehehem.. :D. Semuanya udah diatur, iya kan? Tinggal dijalani sajaaaaa :)).

Kematian adalah kepulangan paling kekal
saat langit telah mencatat nama-nama kita
maka tak satupun yang mampu menolak
bahkan duka dan tangis pilu
saat ia datang, mungkin kita akan menangis bersama
lalu menidurkan segalanya
tapi tidak hati dan kenangan.

Untukmu orang-orang yang mengisi hidupku
ketika salah satu dari kalian pergi
akan selalu ada tempat untuk bercakap-cakap dengan rindu, dengan kalian
karena bagiku, cinta adalah kekal.

Rabu, 23 Februari 2011

Numpang Curcol

Baru aja mulai blogging lagi, adaaa aja yang menghalangi. Dua hari yang lalu, tepatnya hari Senin, pagi-pagi sebelum bersiap-siap ke Rumah Sakit, aku udah posting satu content. Maksudnya nanti siang sepulang dari Rumah Sakit, mau berkunjung ke tempat sahabat-sahabat blogger. Pasti ada banyak cerita menarik yang terlewat. Tapi apa daya, ada-ada aja yang terjadi di hari itu.

Setelah mematikan komputer, mandi, beres-beres, sarapan dan langsung minum "dopping" alias mestinon alias obat kebanggaanku...hoho.....( supaya bisa jalan dengan sedikit leluasa ). Entah kenapa, hari itu reaksi mestinon kurang maksimal. Mungkin juga karena pengaruh dari kondisi fisik yang belum sepenuhnya pulih ( lebih kurang satu minggu sebelumnya aku mengalami sesak nafas ). Alhasil, badanku masih lemes aja. Bahkan mama sempet nyuruh aku untuk minum mestinon lagi. Tapi aku berusaha bertahan dengan satu butir mestinon hingga sampai di Rumah Sakit. Meski sulit untuk naik turun angkot dan menyeberang jalan :D. 

Ok, di Rumah Sakit semua berjalan lancar. Tapi ternyata persediaan mestinon di apotik hanya tersisa 10 butir. Padahal seharusnya aku mendapatkan lebih kurang 35 butir mestinon. Petugas apotik mengatakan untuk kembali lagi dalam dua hari. Huffftt.... -_-'. Untung suster yang ada di Polisaraf baik hati, dan mereka juga udah tau dengan kondisi aku serta tau tentang Myasthenia Gravis. Untuk ke depannya, aku ga perlu datang ke Rumah Sakit, bisa diwakilkan oleh mama aja. Nanti susternya yang akan minta resep langsung ke dokter. Duuuh, baik banget. Aku kan ga perlu repot bolak balik ke Rumah Sakit lagi. Hanya datang sesekali aja kalau memang perlu konsultasi dengan dokter. 

Sekedar catatan, aku memang cuma butuh resep dokter untuk bisa mendapatkan obat yang namanya mestinon itu. Karena memang ga ada lagi yang perlu dikonsultasikan. Beberapa pasien Myasthenia Gravis bahkan udah "gape" untuk mengatur sendiri jumlah obat yang harus diminum, karena pasien sendiri yang mengetahui kondisinya masing-masing.

Sepulang dari Rumah Sakit, aku ga langsung pulang ke rumah. Mama ngajak ke mall........horrreeee. Sampai di mall, perut laper banget. Tapi ga langsung makan, malah muter-muter dulu. Akibatnya, sepulang ke rumah, perut sakit dan langsung muntah-muntah. Penyakit maag kumat. Baru sadar kalau lambungku memang sedikit sensitif karena beberapa hari sebelumnya masih mengkonsumsi obat ( methylprednisolone ) yang berguna untuk meringankan sesak nafas karena Myasthenia Gravis. Obat itu mempunyai efek samping yang kurang baik untuk lambung, terutama untuk lambung yang sensitif.

Makin jadi lemesnya hari itu :(. Yang ada malah tiduran aja sampai pagi. Alhamdulillah kemarin pagi perut udah ga sakit. Tapi lemesnya masih ada aja. Walaupun begitu, masih mengumpulkan semangat untuk ke Klinik Padmajaya untuk Reiki Tummo, meski kali ini aku datang hanya sebagai pasien, tidak sebagai terapis...hiks...

Mudah-mudahan hari ini tenaga mulai terkumpul lagi dan mestinonnya ga boros. Malah pengennya ga usah aja minum mestinon. Untung ga beli. Kalau beli, harganya bisa menyebabkan penyakit "penyempitan pembuluh dompet". Muahallll!!!!

Dan malam harinya, kudapati kalau akun facebook ada yang ngebajak. Beberapa hari ga buka facebook, masa iya ada yang update status, iseng pula. Ga terlalu penting juga sih, tapi agak bete aja. Sementara aku kan ga pernah bikin status iseng kaya' gitu. Mana banyak pula yang komen, kan malu!!! >.<

Tapi udah beres kok, langsung ganti password. Hmmm...mungkin ini kualat kali ya. Dulu aku beberapa kali pernah iseng update status abang, sepupu dan tante. Update status iseng...hehe. Yah, anggap lah itu balasan buat aku. Dan aku kayanya tau siapa yang ngisengin. Mari kita bikin perhitungan!! :D

Hufft...sudahlah. Lama-lama ini postingan makin ga jelas...haha.....Udahan ah. Terima kasih udah bersedia untuk membaca :))

Minggu, 10 Oktober 2010

MG Gathering

Wah, sudah tanggal 10/10/10 ya? Banyak sekali yang melangsungkan pernikahan di tanggal ini, bahkan ingin melahirkan di tanggal ini pula. Bersejarah? Mungkin iya bagi segelintir orang. Bagiku, 26 September 2010 yang justru lebih bersejarah ( yaiyalah..). Karena persis 2 minggu yang lalu akhirnya ketemuan lagi dengan teman-teman MGers ( orang-orang spesial yang hidup dengan MG / Myasthenia Gravis ).

Kangen dengan semuanya. Sudah beberapa lama tidak saling menyapa secara langsung. Ya, walaupun tak jarang kita bertemu di salah satu mal Jakarta, rumah makan, ada yang datang ke rumah, atau piknik ke rumah sakit ( hehe ). Tapi biasanya tidak sebanyak ini, hanya beberapa orang saja. MG Gathering ini baru terlaksana lagi setelah satu tahun sebelumnya diadakan di tempat yang sama. Ternyata banyak wajah-wajah lama yang ga muncul karena berbagai kendala. Dan surprise, ada beberapa MGers baru yang bergabung. Ga tau deh, musti senang atau sedih sebab makin hari makin banyak yang terserang MG.

Seperti biasanya, pertemuan yang berlangsung sangat kekeluargaan karena sejak beberapa tahun ini hubungan yang terjalin tidak hanya sebatas "kenal", melainkan sudah seperti keluarga sendiri ( meminjam kata Mas Eko, salah satu MGers Jawa Timur : "Saudara senasib dan  sepenyakitan" ). "Ritual" perkenalan dan berbagi kisah tentang MG masing-masing pun masih dilangsungkan, mengingat ada beberapa yang baru bergabung supaya lebih saling mengenal dan mengambil pelajaran dari setiap kisah yang tertutur. Meski melewati perjalanan yang berbeda dan gejala MG yang tidak sama pada tiap MGers, tapi selalu saja ada banyak hikmah yang terpetik dari setiap pertemuan. Hal-hal yang selalu kukagumi dari MGers adalah kekuatan, ketabahan dan sikap "nrimo" yang tersembunyi di balik tubuh-tubuh rapuh itu. 

Selalu ada banyak tawa ketika kami berkumpul. Meski terkadang terselip sedikit tangis, tapi bukan karena MG yang hadir tiba-tiba dalam hidup kami, melainkan karena ketika kami bercerita tentang ketulusan keluarga terdekat untuk menerima dan merawat fisik-fisik lemah itu. Ah, sebuah ketulusan yang tak terbeli dengan apapun. 

Semoga saja hubungan kekeluargaan yang sudah terjalin ini semakin hari semakin erat. Karena kami ada untuk saling menguatkan. Bagaimanapun, masing-masing sudah melewati berbagai proses yang tidak mudah. Seperti sebuah proses yang harus dilewati seekor ulat untuk menjadi kupu-kupu, pada akhirnya mempersembahkan keindahan bagi yang melihatnya. Semoga, karena selalu ada banyak hikmah dalam setiap kejadian. 
 
 Dari kiri : Eni "New Commer MGers" ( Si Choklat_girl ), Saya, Teh Tina dan Mba Ani ( duo MG Moms yang luar biasa, hebat banget merawat anak-anaknya walaupun dengan MG ).

Eni, Teh Tina, Silvi "Itik".. :D

Bareng New Commer Eni Si Choklat_girl
Welcome to the club dear ^_^

Makaaaaaaan... Duo MGers feat. Monda ( putri dari Mba Vivi MGers )

Dari Kiri : Mba Anggi ( si empunya rumah ), Ibu Sumini, Mba Ani yang baru abis operasi thymectomy, Mba Vivi, Eni, Teh Tina, Silvi, *eh ini anak kecil siapa ya??*, Mba Nita MGers yang baru aja melahirkan ( selamat mbakkuuu ), Mas Gatot, Pak Joko "New Commer" juga ( yang nganterin pulang karena Jakarta hujan deraaaas ), Mas Erry

Nah kalau 2 foto di bawah ini saat MG Gathering di tempat yang sama tahun lalu

Dari kiri : Bunda Rita, Teh Tina, Saya, Mba Anggi, Dyani

Dari Kiri Belakang : Teh Tina, Dyani, Mas Erry
Dari Kiri Depan : Mamakuuuu, *ga kenal*, Mba Hana, Mba Sita ( Si BuDos alias Bu Dosen ), Bunda Rita, Mba Anggi, Wina

Mohon maaf kepada Epifania Seprianus karena tidak dapat memenuhi permintaan Anda untuk berfoto sebanyak mungkin. Maklum kalau udah pada ketemu, yang ada malah ngobrol-ngobrol, sesi curhat dan gosip *ealah*. Ada yang curhat tentang kuliah, pekerjaan, pacar, suami, anak dan berujung dengan menggosipkan Transfarma yang tak kunjung menurunkan harga Mestinon ( baca : Obat untuk MG ). Ampun ya Transfarma...heu...kami menggosipkan Anda. Saking asiknya, jadi lupa untuk membahas masalah pembentukan yayasan. Aiiiih....... -_-'

Minggu, 20 Juni 2010

RKBH, Sejarah di Tengah Keramaian Pasar

Rumah Kelahiran Bung Hatta atau biasa disingkat dengan RKBH, berlokasi di Jalan Sukarno Hatta Nomor 37, Bukittinggi. Salah satu tempat yang paling ingin kukunjungi jika kelak aku ke Bukittinggi. Jadi, ketika Maret lalu aku berlibur di Bukittinggi, kusempatkan untuk mampir. 

Dari Lobang Jepang, aku berdua dengan mama menuju Jam Gadang. Setelah menikmati suasananya sebentar, kami mulai mencari-cari informasi keberadaan RKBH. Beberapa orang yang kami temui tidak ada yang mengetahui letaknya. Aku sempat bertanya dengan beberapa orang pelajar sekolah menengah yang melintas, dan jawaban mereka membuatku sedikit heran. Mereka tidak tahu. Sebagian dari mereka malah memberitahuku lokasi Istana Bung Hatta yang tak terlalu jauh dari komplek Jam Gadang. Duh, masa iya sih ada anak muda Bukittinggi yang ga tau RKBH, ckckck.......

Kuputuskan untuk bertanya kepada seorang kusir Bendi ( sebutan untuk delman ). Di depan Jam Gadang banyak Bendi bertebaran. Akhirnya kami diantarkan menuju RKBH. Alhamdulillah ada juga yang tahu. Jadilah hari itu aku dan mama naik bendi ke RKBH. Udah lama euy ga naik Bendi. Dulu waktu masih kecil dan aku masih tinggal di Padang, mama sering mengajakku naik Bendi, biasanya di Pantai Padang.

Parkir khusus Bendi ( ???? )

Sejuk. Segar sekali udara di kota ini. Ternyata RKBH tak terlalu jauh dari Jam Gadang, dekat dengan Pasar Bawah. Ga nyangka juga sih ternyata rumahnya terletak di tepi jalan raya dan di tengah keramaian Pasar Bawah. Bendi berhenti persis di depan RKBH. Tak sabar rasanya untuk segera menginjakkan kaki di dalamnya. 


Tampak depan

Ada beberapa orang petugas yang menyambut kedatangan kami di teras rumah. Memberikan senyum hangat mereka dan mengucapkan selamat datang. Berbincang sebentar dengan mereka sebelum mulai menyusuri jejak-jejak masa lalu di RKBH. Hmmm...mereka semua ramah....

Menurut penjelasan salah seorang dari mereka ( sayang sekali aku lupa namanya ), rumah ini lama tidak difungsikan dan pernah rusak sebelum akhirnya direnovasi pada tahun 1995. Keaslian bentuk dari rumah  berlantai dua ini masih tetap dijaga, lantainya terbuat dari kayu, dinding terbuat dari anyaman bambu dan beratap seng. Satu hal yang membuatku merasa sangat nyaman berada di sana adalah suasana rumah yang  sejuk.

Ruangan yang pertama kujelajahi  adalah ruang baca Bung Hatta yang terletak di bagian paling depan, kemudian ruang tamu, kamar Mamak Idris dan kamar Mamak Saleh yang letaknya berseberangan. Dinding-dinding ruang tamu ditempeli dengan berbagai foto dan dokumen salah satunya adalah teks proklamasi, silsilah keturunan keluarga Bung Hatta, bibliografi dan lukisan diri Bung Hatta. Yang menarik, seluruh perabotan yang ada di dalam ruangan ini masih asli, termasuk lampu gantung dan jam dinding yang  setelah kuperhatikan, ternyata sudah tidak berdetak lagi.

 
 Lemari yang berisikan buku-buku koleksi Bung Hatta

Ruang tamu beserta perabotannya

Hal lain yang menyita perhatianku adalah sebuah sumur tua yang terletak di dalam kamar Mamak Idris. Sumur ini diberi nama "Sumur Lama". Ternyata dulunya sumur ini berada di luar rumah. Pada saat renovasi di tahun 1995, sumur ini dipindahkan ke lokasinya sekarang. Pantas saja, tadinya aku heran kenapa ada sumur di dalam kamar. 

Melangkah ke belakang, keluar dari ruang tamu, pandanganku tertuju pada sebuah kamar yang di atasnya bertuliskan "Kamar Bujang". Ini adalah kamar Bung Hatta saat beliau beranjak dewasa. Langsung saja aku masuk kesana. Di dalamnya terdapat sebuah tempat tidur, meja, kursi, lemari dan sebuah sepeda tua. Bagian yang masih asli dari sepeda ini hanya kerangkanya saja , sedangkan bagian lainnya sudah diganti. 

Kerangka sepedanya masih asli buatan tahun 1908

Masih di lantai satu, di sebelah kamar Bung Hatta terdapat 2 buah lumbung padi. Lalu ada dapur, kamar mandi, ruang makan ( letaknya di dekat tangga menuju lantai dua ), tempat penyimpanan kereta kuda, dan istal kuda. Aku pernah menonton sebuah acara di televisi yang menayangkan kereta kuda yang dulu dipergunakan untuk mengantar Bung Hatta ke sekolah. Wow, kereta kuda itu ada di hadapanku...( norak mode on ). Ga tau juga kenapa, kereta kuda itu adalah yang paling ingin kulihat di rumah ini...

Ini dia kereta kuda yang mengantar Bung Hatta dulu ke sekolah...( eh, ada kudanya juga ya...yang berkerudung putih..hehe )

Naik ke lantai dua, ada ruang pertemuan keluarga, kamar kakek Bung Hatta ( kamar Pak Gaek ), dan kamar lahir Bung Hatta. Bagian dindingnya masih banyak ditempeli dengan foto dan lukisan diri Bung Hatta. Kamar lahir Bung Hatta adalah kamar terakhir yang kumasuki. Tak jauh berbeda dengan kamar-kamar lainnya, perabotan dan bentuknya hampir sama. Hanya pemilik kamarnya saja yang berbeda-beda. Ada dua beranda di lantai dua ini. Beranda depan yang menghadap ke jalan raya dan beranda belakang yang dari sini terlihat dua lumbung padi di lantai satu tadi. Beristirahat sejenak di beranda setelah lumayan berjuang untuk naik tangga. Sedikit kebingungan bagaimana caranya turun karena sedikit sulit bagiku dengan bentuk tangganya. Huft...akhirnya dapet juga caranya...

Tempat tidur di kamar lahir Bung Hatta

Melangkah turun dengan berbagai pikiran memenuhi kepala. Di kamar terakhir tadi, 12 Agustus 1908, lahir seorang anak yang di rumah itu biasa dipanggil dengan sebutan "Atta". Kamar itu adalah saksi sejarah keluarga Mohammad Djamil yang menyambut kelahiran seorang anak yang kelak menjadi proklamator Indonesia, Mohammad Hatta.


Sebelum mengakhiri kunjungan, aku dipersilahkan untuk mengisi buku tamu dan menuliskan kesan dan pesan di buku tersebut. Berbincang sebentar dengan petugasnya, lalu pamit pulang untuk meneruskan menelusuri kota Bukittinggi. Pengalaman yang menyenangkan. Aku berharap suatu saat nanti akan kembali ke sana, kembali merasakan sejuknya di dalam rumah itu...


Minggu, 13 Juni 2010

Lobang Jepang

Setelah menyaksikan program Pepi The Explorer, Minggu 13 Juni 2010, aku jadi rindu Bukittinggi lagi. Ingin sekali rasanya mengunjungi Jam Gadang, Ngarai Sianok, Lobang Jepang, Benteng Fort de Kock, Pasar Atas dan Pasar Bawah, Jenjang 40, Rumah Kelahiran Bung Hatta, dan yang paling kurindukan, berkunjung ke rumah Pamanku yang ahli membuat nasi goreng super enak. Nasi goreng Manenggang namanya. Hmmmm....

Diantara semuanya, yang sedikit menggelitik adalah tayangan tentang Lobang Jepang yang ditampilkan dalam program tersebut. Digambarkan seolah-olah di dalamnya bernuansa angker. Menurutku sebuah kesan yang dilebih-lebihkan ( maaf ). Bukankah lebih baik tidak ditampilkan adegan yang membuat pemirsa merasa ketakutan. Pasalnya, mungkin ada orang-orang yang ingin berkunjung kesana jadi mengundurkan diri karena takut. Padahal situs Lubang Jepang adalah salah satu peninggalan sejarah pada masa pendudukan Jepang. Oke, tulisan ini bukanlah untuk mengkritik tayangan tersebut, melainkan untuk menyinggung sedikit sejarah mengenai Lobang Jepang itu sendiri.


 Bagian depan Lubang Jepang

Lobang Jepang sebenarnya adalah benteng pertahanan tentara Jepang. Dibangun lebih kurang selama 2 tahun 7 bulan, sejak tahun 1942-1945 oleh Jepang yang mempekerjakan secara paksa orang-orang Indonesia yang tidak hanya diambil dari penduduk sekitar, tetapi juga diambil secara paksa dari daerah lain di Indonesia. Pada masa itu Bukittinggi menjadi Pusat Komando Pertahanan Tentara Jepang untuk wilayah Sumatera, dikarenakan posisi kota Bukittinggi yang strategis. Nah, lorong ini dibangun persis di bawah jantung kota Bukittinggi.

Ini adalah kali kedua aku ke tempat ini. Dulu, kata mama, aku pernah diajak kesini sewaktu berumur 4 tahun ( duh ma, udah lupa :D ). Aku ga mau menyia-nyiakan kesempatan kali ini. Kapan lagi coba ke Bukittinggi. Mumpung ada di kota kelahiran Bung Hatta ini dan sudah berada di depan Lobang Jepang, masa iya sih ga masuk ke dalamnya. Keinginanku langsung ditolak mentah-mentah oleh mama. Mama khawatir anaknya ga bisa menuruni tangga yang berjumlah 132 buah anak tangga. Maklum, untuk jalan aja susah, apalagi naik turun tangga yang jumlahnya lumayan itu. Terpaksa hari itu harus puas dengan berfoto ria di area mulut Lobang Jepang. Sedikit kecewa dan rasa penasaran yang luar biasa, akhirnya aku menuruti mama yang dengan tegas tidak memperbolehkanku masuk.   


 Hari pertama, harus puas hanya berfoto di bagian depannya.

 
Mama berpose dulu. Ini hari pertama, belum terjadi gangguan yang menyebabkan padamnya lampu.

Hari itu akhirnya diisi dengan berkeliling di kawasan Jam Gadang dan taraaaa.......finally, Rumah Kelahiran Bung Hatta. Salah satu tempat yang sangat ingin kukunjungi.

Jalan-jalan seharian lantas tidak membuat rasa penasaranku terhadap Lobang Jepang sirna. Dengan segala bujuk rayu dan sedikit memelas ( hehe ) masih terus gencar kulakukan kepada mama. Karena hari itu aku sukses menaiki Jenjang 40, sebuah tangga yang menghubungkan Pasar Atas dan Pasar Bawah Bukittinggi yang berjumlah 140 anak tangga, mama akhirnya mengijinkan aku untuk masuk ke dalam Lobang Jepang. 

Alhasil, keesokan harinya aku dan mama berangkat lebih pagi dari kediaman adik almarhum papaku, tempat kami menginap, dengan alasan supaya kondisiku masih segar untuk kembali mengobrak abrik Bukittinggi. Hari itu tujuan kami tidak hanya Lobang Jepang, melainkan juga ingin ke Benteng Fort de Kock dan Kebun Binatang.

Karena hari itu adalah hari Senin, suasana cukup sepi. Kami diantar oleh seorang pemandu untuk masuk ke dalam gua, Leni namanya. Hanya kami bertiga, dan ternyata sedang terjadi sedikit gangguan yang menyebabkan beberapa lampu yang menerangi gua mati. Gelap gulita. Penerangan saat kami menuruni satu per satu anak tangga hanya berasal dari lampu senter yang masing-masing kami pegang. Tapi justru aku suka, lebih dapet suasananya ( :D ).

 
Gambar yang diambil dari dalam ( kira-kira setelah menuruni 20 anak tangga ). Lampunya mati, jadi gelap banget.

Alhamdulillah. Walau agak lama, karena harus berhenti tiap sebentar, akhirnya kami sampai di dasar Lobang Jepang. Untunglah di dalam lampunya menyala, jadi tak perlu gelap-gelapan lagi. "Sekarang kita berada di kedalaman 42 meter di dalam tanah", ujar Leni si pemandu. Saat dulu ditemukan pada tahun 1946, Lobang Jepang berbentuk sebuah sumur berdiameter 20 cm. Lorongnya sendiri memiliki panjang sekitar 1470 meter ( hanya bagian yang terawat, sedangkan total panjangnya yang berada di bawah kota Bukittinggi diperkirakan 5000 meter ). 

Di kedalaman 42 meter.

Di dalamnya terdapat banyak ruangan yang berjeruji besi. Diantaranya dipergunakan sebagai ruang penyimpanan amunisi, ruang rapat, ruang sidang, ruang tentara Jepang, dan ruang penyergapan. Saat ini beberapa ruangannya dipersiapkan sebagai studio yang nantinya akan dipergunakan sebagai tempat menjelaskan sejarah tentang Lobang Jepang, sebagai tempat makan, dan mushola. 

 
Salah satu ruangan sebagai ruang penyimpanan amunisi.

Semakin ke dalam udara semakin sejuk. Iseng-iseng kulihat handphone, ga ada sinyal. Kami terus melangkah untuk masuk lebih dalam lagi. Kata mama, dulu waktu mama kesini, pengunjung harus berjalan sedikit menunduk. Lantai dan dindingnya pun masih asli dari tanah. Berbeda dengan sekarang yang sudah dilapisi dengan semen, jalan pun sudah tak perlu lagi menunduk. Leni menjelaskan, bahwa memang telah terjadi beberapa kali perbaikan di hampir semua bagiannya. Hal ini sangat disayangkan banyak pihak, karena menghilangkan keaslian nilai sejarahnya. Namun di beberapa tempat, bagian dinding tanah masih dapat dijumpai. Terdapat lekukan-lekukan di dinding tanah tersebut. Menurut Leni, itu berfungsi sebagai peredam suara, agar mencegah suara-suara terdengar dari luar. Pembangunan Lobang Jepang sendiri memang sangat dirahasiakan. 

Ini dia bagian dinding yang masih asli dari tanah.

Leni kemudian mengajak kami menuju "Dapur". Kupikir dapur untuk tempat memasak. Ternyata itu adalah dapur untuk tempat menyiksa para pekerja paksa yang sakit, tak sanggup bekerja atau yang membangkang. Mereka disiksa dengan berbagai cara bahkan dipenggal. Mayat-mayat mereka akan dibuang ke sungai yang mengalir di dasar lembah Ngarai Sianok melalui sebuah lubang yang terdapat di dekatnya.

Tempat penyiksaan para romusha.


Lubang pembuangan yang langsung menuju sungai di dasar lembah Ngarai Sianok.

Miris sekali ketika aku membayangkan bagaimana tentara Jepang menyiksa para pekerja paksa dulu. Ada perasaan sedih yang datang tiba-tiba.

Persis di atas lubang pembuangan terdapat sebuah lubang yang mengarah ke atas. Lubang itu dipergunakan untuk tempat pengintaian. Jika ada penduduk yang kedapatan lewat membawa hasil panen kebun mereka, tentara Jepang akan langsung menangkapnya di ruang penyergapan yang ada di sebelah dapur.

Tempat pengintaian

Tak ingin berlama-lama di "Dapur" itu. Tak tega rasanya berdiri di sana. Berpuluh-puluh tahun silam berapa nyawa sudah melayang akibat disiksa tentara Jepang :(. Leni lalu mengajak kami ke ruang sebelahnya, sebuah penjara. Leni menuturkan, penjara ini adalah kuburan massal. Aku dan mama sedikit terkejut. Saat pemerintah merenovasi lantainya dengan menggali setengah meter ke bawah tanah, banyak ditemukan tulang belulang manusia. Tulang-tulang itu dikumpulkan lalu dikuburkan di penjara tersebut. Robbi, lapangkanlah kubur mereka........
 Penjara yang beralih fungsi sebagai kuburan massal.

Tur berlanjut ke beberapa tempat. Lalu kami melangkah menuju pintu keluar yang tembus ke jalan raya yang merupakan jalan raya menuju dasar Ngarai Sianok. Sebenarnya pengunjung biasanya akan kembali lagi ke pintu masuk tadi dengan menaiki anak tangga sebanyak 132 buah. Mengingat kondisiku, mama meminta Leni untuk keluar melalui pintu tersebut. 

Hilang sudah rasa penasaranku. Kulangkahkan kaki dengan sekelumit kisah dari masa lalu. Tragis memang jika merunut kembali sejarah perjalanan bangsa ini di masa sebelum kemerdekaan. Terucap doa untuk mereka yang pernah menjadi saksi betapa kejamnya penjajahan dahulu. Tak terbayangkan bagaimana para pekerja itu harus menggali dan membuat terowongan yang begitu dalam dan panjang, di tengah kehausan dan kelaparan, kegelapan, kesakitan, keletihan, dan jauh terpisah dari kelurga. Dan menurut kisahnya, tak ada satupun dari mereka yang dapat meloloskan diri dari cengkraman Jepang. Mereka terkubur dalam misteri yang tersimpan pada dinding tebing Ngarai Sianok. Sampai saat ini, tak ada yang mengetahui berapa banyak tenaga pekerja paksa dikerahkan untuk membangun Lobang Jepang, siapa yang memerintahkan untuk membangunnya, dan kemana perginya pendiri Lobang tersebut setelah Indonesia merdeka. Semuanya menjadi misteri seperti kisah yang termuat di dalamnya.....

 Mama dan Leni, si pemandu.


Di pintu keluar bersama mama.

Kamis, 03 Juni 2010

20022010, Satu Hari Bersama Piko

Tulisan ini ditulis setelah pertemuanku dengan sahabat kecilku, Intan, yang biasa kupanggil dengan sebutan " Piko ". Pertemuan ini adalah yang pertama kalinya sejak lima belas tahun yang lalu saat aku pindah dari kampung halaman, kota Padang.

Sabtu itu, kota Padang dilimpahi cahaya matahari yang cukup menyengat kulit. Tapi aku tetap bersemangat  walaupun MG tidak mau mengerti kebahagiaanku, karena hari itu aku akan menemui seorang sahabat sejak kecil. Sedikit kebingungan mencari rumahnya, karena semua telah banyak berubah.

Pertemuan yang hangat. Kami baru tersadar, ternyata telah 15 tahun tak pernah berjumpa. Tentu saja banyak kisah yang terlewati. 
Piko dengan tawa lebarnya, Pima dengan senyum ala MG nya :D

Pelukan persahabatan, obrolan ringan yang santai diselingi tawa dan senda gurau, sampai obrolan tentang masalah pribadi mewarnai pertemuan kami.

Persahabatan kami adalah persahabatan yang dipisahkan oleh ruang dan jarak. Menghabiskan masa kecil bersama dan melakukan berbagai kekonyolan khas anak-anak. Hingga suatu hari aku harus meninggalkan kebersamaan itu. Namun kami masih terus menjalin komunikasi dan saling bertukar kabar.15 tahun. Bukanlah waktu yang sebentar. Pertemuan itu akhirnya terjadi. Bahagia sekali rasanya duduk di samping seorang sahabat yang mengerti sesuatu tanpa harus kujelaskan secara panjang lebar. 

Segalanya berubah. Perjalanan hidup masing-masing telah menjadikan kami sebagai pribadi yang berbeda. Tapi itu tak menghalangi kami untuk terus menjalin persahabatan ini. Bagiku, ia adalah Piko yang kukenal dulu. Piko yang membuatku tertawa, yang membawakanku sekantung buah kakao, yang menghabiskan minggu pagi bersama, yang menemaniku makan karena aku malas makan, yang bersama-sama menemukan sebuah tempat tersembunyi di samping sebuah gedung sekolah, yang kami sebut dengan " tempat rahasia ". Tempat rahasia itu sekarang sudah tidak ada. Tapi kenangannya membuat kami tertawa jika mengingatnya.

Satu hal lagi yang tak terlupakan. Kami adalah " Trio Sapi ". Sayang sekali, satu dari anggota trio sapi tidak hadir. Intan ( Sapiko ), Surya ( Sapitu ), dan aku sendiri ( Sapima ). Panggilan itu masih kami gunakan hingga saat ini... :D

Hari itu, kami berdua menyusuri jalan yang dulu selalu dilewati, sungai yang airnya tak sejernih dulu, hamparan sawah yang tak ditanami padi karena belum masa tanam, jembatan yang sepertinya mengecil ( mungkin karena kami yang membesar :D ), lapangan voli yang juga tampak mengecil, jalan setapak sepanjang aliran sungai yang terasa memendek ( dulu jaraknya terasa jauh ), rumah nenek yang halamannya ditumbuhi rumput jepang, rumah masa kecilku yang mungil, hingga mesjid sebagai tempat kami menghabiskan waktu untuk bermain dan mengaji. Semuanya menyimpan kisah kami dan seperti bercerita kembali tentang sebuah persahabatan kanak-kanak di masa-masa yang kerdil.

Satu hari yang penuh nostalgia. Aku sangat menikmatinya. Bersama Piko, semoga persahabatan ini untuk selamanya. Terima kasih telah mengerti dan mendampingiku...^ ^ 

Bertiga bersama mama..^_^