Dapatkah kau mencintai tanpa melukai?
Menghilangkan sejenak cinta diri yang kian lama membuatmu sekarat!
Dapatkah kau mencintai tanpa melukai?
Saat kau dapati dirimu dicintai oleh keping hati sederhana yang tak pernah lelah berdoa untukmu
Dapatkah kau mencintai tanpa melukai?
Melupakan sejenak asal usul dirimu
Sebab, cinta adalah saat angin menggoda dedaun dan bebungaan, saat ia menerpa wajahmu dengan kelembutan
Ia tak kan pernah banyak kata dalam kehadirannya
Dimana pun, kapan pun. dan bagaimana pun caranya ia kan menyentuhmu serupa cahaya,
tak terlihat namun terekam indera lainnya
Mengatupkan awan saat panas menyengat menjelangmu
Memberikan pakaian saat kau kedinginan
Memberikan makanan minuman saat kau lapar haus
Memberikan sandaran saat kau terkulai
Memberikan analogi khusus saat kau bingung tak mengerti tentang sebuah ilmu
Membuatmu tersenyum bahkan terbahak saat kau sedih
Membiarkan dirimu hidup menjadi seutuhnya dirimu, apa adanya dalam lingkar lengannya
Sanggupkah kau mengakuinya?
Jika ya...
Maka sekali lagi aku bertanya :
Dapatkah kau mencintai tanpa melukai?
By : Adriana Wardani
Tak ada yang tak bercacat, tak ada yang sempurna, sebab begitulah semesta menanam benih-benih aturan kehidupan. Pun cinta. Meski hingga kini kita masih bergulat tentang pemaknaannya. Menelusuri celah-celah pemahaman yang tentu saja berbeda dan tak pernah sama. Lalu apakah yang membuat cinta itu tak sempurna dalam durasi perjalanannya? Bagiku, ia adalah luka. Tak ada cinta tanpa luka. Seperti senja yang selalu dibayangi oleh jingga. Berbicara tentang cinta, pada satu titik kita akan berbicara pula tentang luka.
Cinta yang sebenarnya adalah cinta yang bersedia mencecap luka itu bersama, mengunyahnya kemudian menelan meski kadang tersedak. Kebersediaan menjalaninya bersama, akan membuat luka itu tak lagi membuat luka yang baru, mengoyaknya kembali. Walaupun tetap saja ia bernama luka. Meski tak berdarah, ada nyeri disana.
Ketika kita mencintai, akan ada sebuah telaga yang kelak berisikan luka. Membiarkan cinta masuk, sama dengan membukakan pintu bagi segala hal yang turut bersamanya, termasuk luka itu sendiri. Sama halnya dengan kebahagiaan, tak seorangpun yang memungkiri bahwa pernah ada air mata kesedihan yang bergulir disana. Pun kehidupan, memilih hidup sama dengan berjalan menuju kematian. Seperti itu cinta dan luka. Miris? Mungkin. Tapi bukankah segala hal memang memiliki sisi yang demikian?
Cinta memang akan singgah di semua hati, tetapi luka tetap menjadi salah satu bahan dasarnya. Namun pada akhirnya, bila cinta itu adalah sesuatu yang bertumbuh dari sebuah ketulusan hati, maka cinta pula lah yang akan mengeringkan telaga luka yang ada. Maka bila aku boleh mengganti sedikit pertanyaan yang diberikan, akan kuajukan sebuah pertanyaan lain : "Dapatkah kau mencintai dengan ketulusan?". Tanyakan itu pada hatimu yang paling palung.
*****
Tulisan ini diikutsertakan dalam Give Away berjudul Mencintai Tanpa Melukai yang dipersembahkan oleh kakakku, Kak Diana ...*maaf ya kak, tanpa ijin mengganti pertanyaannya :)*