aku mencintai jingga

saat semesta dinaungi semburat yang mempesona

jingga, semesta menjingga

ketika lamat-lamat suara adzan menghitung detak jantung,

mengukir sebuah kata perpisahan kepada hari

wahai senja..

terimalah aku sebagai kabut

setia menantimu menyambut malam

menundukkan hati dalam-dalam hanya untuk Sang Pemilik Alam

meruntuhkan segala penat dan kesenduan

bersujud hanya untuk satu nama teragung

dan ketika jingga menutup tabir untuk hari ini,

aku ingin pulang di kala senja

kembali pada kisahku yang terukir di langit

hening dan abadi.

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 April 2012

Kematian

Kematian hanya sebuah perlintasan menuju hidup yang sesungguhnya. 

Bukan sekumpulan riuh duka yang mengalir jatuh sebagai air mata.

Meski tak dipungkiri, selalu ada air mata di sana.


Senin, 25 Juli 2011

Mencintai Tanpa Melukai

 Dapatkah kau mencintai tanpa melukai?
Menghilangkan sejenak cinta diri yang kian lama membuatmu sekarat!

Dapatkah kau mencintai tanpa melukai?
Saat kau dapati dirimu dicintai oleh keping hati sederhana yang tak pernah lelah berdoa untukmu

Dapatkah kau mencintai tanpa melukai?
Melupakan sejenak asal usul dirimu

Sebab, cinta adalah saat angin menggoda dedaun dan bebungaan, saat ia menerpa wajahmu dengan kelembutan
Ia tak kan pernah banyak kata dalam kehadirannya
Dimana pun, kapan pun. dan bagaimana pun caranya ia kan menyentuhmu serupa cahaya,
tak terlihat namun terekam indera lainnya

Mengatupkan awan saat panas menyengat menjelangmu
Memberikan pakaian saat kau kedinginan
Memberikan makanan minuman saat kau lapar haus
Memberikan sandaran saat kau terkulai
Memberikan analogi khusus saat kau bingung tak mengerti tentang sebuah ilmu
Membuatmu tersenyum bahkan terbahak saat kau sedih
Membiarkan dirimu hidup menjadi seutuhnya dirimu, apa adanya dalam lingkar lengannya

Sanggupkah kau mengakuinya?
Jika ya...
Maka sekali lagi aku bertanya :
Dapatkah kau mencintai tanpa melukai?
By : Adriana Wardani

 
Tak ada yang tak bercacat, tak ada yang sempurna, sebab begitulah semesta menanam benih-benih aturan kehidupan. Pun cinta. Meski hingga kini kita masih bergulat tentang pemaknaannya. Menelusuri celah-celah pemahaman yang tentu saja berbeda dan tak pernah sama. Lalu apakah yang membuat cinta itu tak sempurna dalam durasi perjalanannya? Bagiku, ia adalah luka. Tak ada cinta tanpa luka. Seperti senja yang selalu dibayangi oleh jingga. Berbicara tentang cinta, pada satu titik kita akan berbicara pula tentang luka.

Cinta yang sebenarnya adalah cinta yang bersedia mencecap luka itu bersama, mengunyahnya kemudian menelan meski kadang tersedak. Kebersediaan menjalaninya bersama, akan membuat luka itu tak lagi membuat luka yang baru, mengoyaknya kembali. Walaupun tetap saja ia bernama luka. Meski tak berdarah, ada nyeri disana.

Ketika kita mencintai, akan ada sebuah telaga yang kelak berisikan luka. Membiarkan cinta masuk, sama dengan membukakan pintu bagi segala hal yang turut bersamanya, termasuk luka itu sendiri. Sama halnya dengan kebahagiaan, tak seorangpun yang memungkiri bahwa pernah ada air mata kesedihan yang bergulir disana. Pun kehidupan, memilih hidup sama dengan berjalan menuju kematian. Seperti itu cinta dan luka. Miris? Mungkin. Tapi bukankah segala hal memang memiliki sisi yang demikian? 

Cinta memang akan singgah di semua hati, tetapi luka tetap menjadi salah satu bahan dasarnya. Namun pada akhirnya, bila cinta itu adalah sesuatu yang bertumbuh dari sebuah ketulusan hati, maka cinta pula lah yang akan mengeringkan telaga luka yang ada. Maka bila aku boleh mengganti sedikit pertanyaan yang diberikan, akan kuajukan sebuah pertanyaan lain : "Dapatkah kau mencintai dengan ketulusan?". Tanyakan itu pada hatimu yang paling palung.

*****
Tulisan ini diikutsertakan dalam Give Away berjudul Mencintai Tanpa Melukai yang dipersembahkan oleh kakakku, Kak Diana ...*maaf ya kak, tanpa ijin mengganti pertanyaannya :)*

Kamis, 21 Juli 2011

May It Be

May it be an evening star
Shines down upon you
May it be when darkness falls
Your heart will be true
You walk a lonely road
Oh! How far you are from home

Mornie utulie ( darkness has come )
Believe and you will find your way
Mornie alantie ( darkness has fallen )
A promise lives within you now

May it be the shadows call
Will fly away
May it be you journey on
To light the day
When the night is over come
You may rise to find the sun

A promise lives within you now

*****
Malam yang meremang. Sesayup lantunan lagu dari Enya tersebut mengayuh-ngayuh di gendang telingaku. Kuputar ulang, lagi dan lagi. Sudah lama sekali tak kuputar lagu ini. Salah satu dari sekian lagu yang melekat di hati. Tak ada sesiapa. Tak juga sesuara lain yang terdengar. Terlalu banyak makna yang kupeluk dari liriknya. Aku berdiam saja sambil terus mengetikkan kalimat-kalimat ini, yang sesaat ke depan akan sudah menjadi usang. Detik ini pun akan sudah menjadi langkah yang tertinggal pada satu detik ke depannya. Adakah yang tahu akan kemana berakhir? No one, right?

Serupa malam, biarkan saja ia berjumput dalam kelam. Masih akan ada bintang di atas sana meski kadang cahayanya tak sampai padamu. Lalu kau merasa semua serba tersamar. Mungkin kali itu hanya awan yang menghalangi. Biar. "May it be when darkness falls, your heart will be true". Just keep on your faith. "Believe and you will find your way".

Image by google

Senin, 18 Juli 2011

Intermezzo

Seorang teman (lebih tepatnya saudara jauhku yang belasan tahun belum pernah bertemu kembali) mengatakan, "Awal pertemuan adalah kesempatan dan ujung pertemuan adalah tujuan. Dan apalah arti wujud suatu pemahaman jika jiwanya terkurung di sebuah ketinggian".

Bahkan sampai saat ini pun aku masih harus mencoba memahami kata-katanya tersebut. Bila kita telah sampai di suatu titik dimana kita telah menganggap itu sebuah tujuan, lalu apakah yang akan terjadi sesudahnya? Lalu dimanakah sebenarnya ujung pertemuan itu? Bagaimana caranya mengetahui bahwa itu adalah sebuah penghujung? Ia menyuruhku untuk mengkalibrasi kata-katanya tersebut. Ah, berapa kali lagi harus kuperas benak ini untuk menemukan makna yang tersirat di dalamnya. Dan bukankah pada tiap penghujung, akan ada awal baru lagi sesudah itu, menuju ujung kembali, lalu mengulangi entah kali keberapa. Membentuk siklus? Infinite? Tak terhingga? Hmmmm.....

*mending makan kuaci aja ahhh*.....

Rabu, 13 Juli 2011

Tak Seperti Facebook

Bila hidup ini seperti facebook, asik sekali bukan? Kau bebas menjadi siapa pun yang kau inginkan. Memasang foto yang kau anggap paling mendeskripsikan siapa dirimu sebenarnya, atau sebaliknya, dirimu dalam potret kepura-puraan. Kau bisa memilih siapa saja yang akan memasuki kehidupanmu dan mewarnai tiap inchi langkah nafasmu. Kau dapat mengabaikan permintaan pertemanan, me"remove" mereka yang tak lagi kau inginkan untuk turut mengalun bersama, bahkan memblokir mereka yang kau anggap mengganggu, tak penting atau alasan lainnya.

Kau pun tak harus selalu menjadi dirimu sendiri. Terkadang, hal itu terasa sedikit menghibur, untuk sejenak menjadi seseorang yang berbeda. Kau dapat bersembunyi di balik emoticon-emoticon yang ada. Selalu memberikan senyum dan tawa meski saat itu hatimu sedang dipenuhi karat. Begitupun sebaliknya, kau memberikan tangismu meski saat itu kau sedang tersenyum.

Bila hidup ini seperti facebook, namun sayang sekali, ternyata hidup tak demikian adanya. Kehidupan jauh lebih rumit. Dan yang terpenting, hidup yang sesungguhnya ada di sini, hari ini. Meski seringkali menyajikan potongan-potongan menu yang membuatmu sulit untuk menelannya.

Namun ada satu hal yang membuatku terkadang berharap bahwa hidup ini benar-benar seperti facebook, adalah pilihan untuk mendeaktivasinya. Kau hanya butuh passwordmu. Setelah itu kau dapat pergi dari semua orang yang selama ini menemani perjalanan, menggenggam erat tanganmu ketika kau hampir terjatuh, dan yang meramaikan tawa serta meredakan isakmu. Meski terkesan ada kepiluan di dalamnya, tapi kadang aku merasa lebih mengenal siapa diri ini sebenarnya, di saat jauh dari semua keramaian. Tak perlu lagi mengenal kepura-puraan yang tersembunyi di balik emoticon-emoticon, tak lagi ada kehilangan, tak ada kerinduan, tak ada kepergian juga kepulangan. Cukup dengan menjadi diri sendiri, dalam keheningan dan kediaman (yang kali ini kukatakan, aku mencintai mereka, keheningan dan kediaman itu). Ah ya, bila saja hidup ini seperti facebook. Tapi ternyata tidak.

Selasa, 12 Juli 2011

Suatu Siang di Pusat Perbelanjaan

Siang yang hampir pecah karena kepanasan, aku sendirian saja di rumah. Ditemani beragam pikiran dan perasaan yang meracau tak jelas, tiba-tiba aku terngiang sebuah novel yang beberapa minggu lalu kulihat di sebuah toko buku. Fisikku baru saja pulih. Namun segala hal yang makin rumit membuatku mengabaikannya. Aku memutuskan pergi ke toko buku tersebut, yang terletak di sebuah pusat perbelanjaan.

Ijin pergi sebenarnya tak kudapatkan, mengingat cuaca yang sangat berkeringat, dan aku belum terlalu kuat. Namun beberapa hal yang sedang terjadi mendorong langkah ini untuk tetap pergi, untuk sedikit saja mengalihkan perasaan-perasaan yang membuatku limbung.

Dengan menumpang angkutan kota, aku memilih duduk di depan, di sebelah supir. Aku memang suka duduk di depan. Selain karena sedikit mengalami kesulitan bila harus naik di bangku belakang, aku juga malas bergeser bila ada penumpang lain yang naik. Biasanya aku sibuk dengan handphone atau berbincang kecil dengan si supir. Namun hari itu, sepanjang perjalanan aku mengedarkan pandang ke sisi luar. Seperti mencari sesuatu, tapi aku pun tak tahu apa yang kucari. Kurangkai sendiri kesibukan dalam pikiran. Sedikit berharap agar semua yang telah mengendap dalam pikiranku sebelumnya, dapat terdepak ke luar. Hingga aku tak lagi merasakan nyeri yang ditimbulkannya.

Di pusat perbelanjaan, selalu digilas dengan keriuhan. Aku melihat-lihat tiap hal yang kulewati. Lagi-lagi, seperti mencari sesuatu, dan aku tak tahu apa yang sedang kucari. Kubelokkan saja langkahku langsung menuju toko buku, agar aku tak semakin larut dalam kebimbanganku sendiri.

Aku sempat bertemu dengan Om dan dua adik sepupuku di depan toko buku. Beliau mengajak serta untuk ikut bersama mereka, berkeliling pusat perbelanjaan tersebut. Dengan halus, kutolak ajakannya. Hari itu, aku hanya ingin sendirian saja. Hanya aku dan diriku. Dalam benakku, aku harus terbiasa melakukan apapun sendiri. Tak bergantung pada siapa pun, meski dengan segala keterbatasan yang kumiliki. Sulit memang, tapi aku akan belajar untuk itu. Karena ada kalanya mungkin suatu saat nanti aku akan benar-benar sendirian.

Kuhabiskan banyak waktu diantara buku-buku yang menghampar. Untuk sesaat aku melupakan apa yang sedang terjadi. Aku sangat menikmati saat-saat seperti itu. Membuatku merasa memiliki sebuah dunia yang bisa kupilih sendiri kisahnya. Dari sekian banyak waktu yang telah mengalur, memang hanya sebuah novel yang kubeli. Novel yang selalu terngiang olehku, mendeskripsikan tentang sebuah pencarian. Entah pencarian apa, mungkin pada akhirnya hanya akan melakukan pencarian ke dalam diri sendiri. Bagiku, ada jalan panjang dan berliku yang menjuntai dalam diri ini. Dan itu mesti ditapaki seluruhnya. Ya, seperti kakiku yang menapaki lantai pusat perbelanjaan itu. Setiap satu langkah yang tertinggal di belakang, akan sudah menjadi kenangan yang terserpih. Entah akan menjelma apa ia suatu hari nanti. Dan apakah di ujungnya, semua akan berakhir atau berulang, tapaki saja.
*****
"Sebuah kisah besar dalam hidup seseorang kadang berawal dari satu titik kecil dalam kenangannya". -- Infinitum

Jumat, 08 Juli 2011

Aku Pada Sebuah Siang yang Biasa-Biasa Saja, Mulai Melepas Satu per Satu Sebuah Arti Ketulusan

Bila ini memang peran yang harus kulakoni, akan kuadegani ini dengan sebaik yang mampu kulakukan. Meski perih itu semakin terkais, mengumbai dalam fragmen yang tak kuketahui akan berakhir di perhentian sebelah mana. 
*****
Terpaku aku di sebuah siang yang biasa-biasa saja. Kulihat di luar jendela, dedaunan masih dengan setia membelai angin yang sayup-sayup. Sepertinya mereka juga mencari tahu apa yang sedang berbicara lewat rintik di mataku. Seringkali diam-diam aku menganggap dedaunan, angin, suara kecipak air di akuarium adalah kawan-kawan setia yang menadahkan telapaknya hanya untuk menampung berbagai hal yang tak mampu kutuangkan. Kali ini, aku seperti tercampak ke suatu tempat yang limbung, terkungkung. 

Aku berdiam bila aku memang tak ingin menyampaikan apapun. Kadang, sesungguhnya ada banyak hal yang ingin kusajikan di meja, agar semua yang ada dapat membacanya dengan jelas. Namun banyak hal yang akhirnya membuatku cukup menyimpannya saja, memeluknya lalu melontarkannya pada percakapan-percakapanku dengan-Nya. 

Banyak yang terjadi dalam hidupku, yang akhirnya seringkali membuatku untuk tak menunjukkan siapa diriku yang sesungguhnya. Aku hanya mampu menjadi diriku sendiri, utuh, penuh, lewat aksara-aksara yang berguguran dari jemari ini. Tak ada yang bisa kusembunyikan bila aku sudah mulai menuliskan sesuatu. Pun banyak peristiwa yang mencetakku untuk mencari jawaban atas diriku sendiri. Dalam pencarian itu, kadang aku berkelit menjadi sosok yang ingin dijauhi, dibenci. Lalu kuciptakan skenarioku sendiri agar aku terlihat seperti sebuah pribadi yang keras dan tangguh. Kemudian aku menyadari itu hanya kamuflase untuk menutupi bahwa aku sebenarnya tak jauh berbeda dengan batang pohon yang sudah tua dan melapuk, ringkih. 

Dan pada siang yang biasa ini, aku kembali mengurai bulir-bulir yang makin menderas di mataku. Bukan apa-apa, melainkan karena aku kehilangan sebuah keyakinan yang baru saja mulai kutapaki. Sulit bagiku melepas keyakinan itu, keyakinan pada sebuah ketulusan. Berkali-kali aku ingin menetapkan diri bahwa aku mampu, namun tak pernah berhasil. Hingga sampai pada suatu titik, dimana aku bisa mengalahkan keraguan itu. Kutapaki ia dengan tertatih. Sampai tiba-tiba ada yang mendorongku jatuh tersungkur. Mengeramkan luka yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Luka yang bagiku menjadi luka paling terluka yang pernah ada.

Tuhan, bila memang aku harus menapaki mozaik-mozaik hidupku dengan cara seperti ini, sediakanlah ruang yang jauh lebih besar di hatiku. Untuk menyimpan semua luka yang ada, memeliharanya lalu menguntumkannya hingga berbuah manis dan ranum. Meski bukan aku kelak yang memetiknya. Dan sekali lagi, bila memang peran ini yang harus kulakoni, walaupun dengan kesakitan dan kepedihan, ajarkan aku untuk melakoni setiap sakit dan perih itu dengan sebaik-baiknya diriku. 

Cipayung, ini siang dengan segala hal yang membuatku merasa tercabik.

Kamis, 07 Juli 2011

Hati Nurani

Mungkin saat ini aku sedang berada di suatu perhentian yang antah berantah. Mencoba menguak sesuatu atau sekedar mencari jawaban atas pertanyaan-petanyaan yang gamang. Pada akhirnya aku harus selalu berhadapan dengan remang, abu-abu, tak pasti. Ya, memang tak semua pertanyaan memiliki jawaban yang konkret. Terkadang sebuah pertanyaan pun harus diakhiri dengan pertanyaan yang lain. Demikian seterusnya hingga kita menyadari bahwa tak ada pertanyaan yang benar-benar terselesaikan.

Kebisuan kembali menelanku. Lalu kugelar dialog yang sebetulnya hanya monolog dengan diri sendiri. Bagaimana aku bisa mendapatkan jawaban, sedangkan aku sendiri tak memiliki ketegasan tentang pertanyaan-pertanyaan apa yang sesungguhnya sedang kupelihara. Ah, banyak sekali yang beradu lari di benakku, mereka saling berkeliaran memperebutkan sesuatu yang entah.

Dari sekian banyak kalimat yang singgah lalu mendesirkan pemahaman-pemahamannya, aku berdiam pada sebuah pemaknaan yang sangat indah, bagiku. Dan ini kuperoleh dari seorang kawan yang jauh di Pulau Dewata sana. Kami berbincang singkat di selapis sore yang hampir mengkhatamkan dirinya sebagai senja. Senja yang anggun, digelintirkan oleh semilir rintik kecil-kecil. 


Percakapan di sore itu kubuka dengan sebuah pertanyaan terbesar yang mengendap dalam diriku, "Bagaimana kita mengetahui bahwa apa yang kita lakukan saat ini telah sesuai dengan kehendak-Nya?". Kemudian mengalirlah gugusan alfabet yang membuatku sedikit tercenung lalu tenggelam ke dalamnya. Hanya hati nuranilah yang bisa mengetahui apa yang Tuhan kehendaki terhadap kita. Biarkan kehendakNya bekerja sepenuhnya, seutuhnya. Bila tiba masanya, pasti akan ada jalan untuk sampai pada tingkat itu. Tetap percaya bahwa kasih Tuhan selalu memberi yang terbaik.


Hati nurani. Hanya ia yang tahu bagaimana kebenaran sejati. Setiap hati, mengetahui tentang kebenaran tapi tidak kebenaran sejati. Hati nurani adalah inti dari roh kita. Ia adalah dzat langsung dari Tuhan. Banyak hal yang tak mampu dijangkau oleh otak, tapi hati nurani mampu menelusurinya. Namun terkadang banyak hal terjadi tak sesuai dengan keinginan kita, bahkan sangat bertolak belakang dari apa yang ingin kita raih. Tapi Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Disinilah kita perlu untuk membuka hati. Jangan lagi penuhi ia dengan keegoan dan keakuan diri kita. Ego yang kuat akan melemahkan hati. Hanya akan memperjauh keluasan jarak antara kita dengan-Nya. 


Kawanku melanjutkan, kita di sini hanya sementara saja. Tubuh ini bukanlah identitas kita yang sebenarnya. Banyak kesalahan yang terjadi, lalui saja. Kita hanya manusia biasa yang banyak salah. Di sinilah kita berproses dalam hidup ini. Setiap orang berproses sesuai takaran yang sudah tentu diperhitungkan oleh Tuhan. Di dunia ini tak ada yang namanya kebetulan. Seperti percakapan sore ini, adalah alur yang telah dirancang oleh sebuah kesempurnaan Maha Besar. Belajarlah untuk selalu tersenyum dengan hati. Meski saat ini kau merasa lemah, sadari bahwa Tuhan selalu mengasihi kita dengan caraNya. 


"Bahkan ketika kita berada dalam sebuah kesalahan besar, Tuhan masih memberikan kasihNya kah?" tanyaku. "Tentu", jawabnya. Adakalanya kita belajar sesuatu dengan berbuat kesalahan terlebih dahulu. Karena kita adalah makhluk yang tidak sempurna. Lewat hati nurani lah kita bisa menyadarinya. Bisa menyadari seberapa besar Tuhan mengasihi kita dan seberapa besar kita mengasihiNya. Dengan membaca belum berarti kita tahu. Tahu belum berarti kita sadar. Hanya dengan sadarlah kita bisa memahami semuanya dengan sedalam-dalamnya.


Betapa hebatnya hati nurani. Sesuatu yang tak kasat mata, namun disanalah semua berlabuh. Dan pada akhirnya nanti aku akan mengetahui bahwa setiap jawaban dari segala pertanyaan, tersimpan rapi dalam hati nurani. Bahkan aku tak perlu mencarinya hingga ke suatu tempat terdalam atau tertinggi sekalipun. Cukup dengan menyelami diri sendiri, sebab Tuhan ada disini.

Cipayung, setelah percakapan kecil sore tadi dengan seorang kawan di Pulau Dewata.

Sabtu, 18 Juni 2011

Perubahan

Waktu sudah beranjak sekian lama. Kita bukan lagi kanak-kanak kerdil yang berlari menapak musim dengan kaki kecilnya. Cuaca telah berulang kala memutar jarumnya, tak terhitung lagi berapa kali ia memutar. Masih di pelataran yang sama. Kali ini kita menjelma jasad yang bertumbuh dengan tunas pemahaman-pemahaman berbeda. Bukankah itu yang namanya hidup? Tak pernah ada yang terulang persis seperti saat kau menekan tombol di remotemu untuk mengulang adegan sebuah film yang sedang kau tonton. Semua kejadian unik, memiliki tandanya sendiri.

Inilah jalanku. Yang membuatmu sedikit terkejut ketika aku menceritakan semuanya. Bertahun-tahun lalu kita masih berseragam putih merah, lalu perjalanan yang abstrak ini membawa kita berbelok ke arah yang berlainan. Seperti halnya labirin, penuh rahasia, penuh debar, kita menyusuri jejalan yang berjejal itu. Pada akhirnya kita berdiri bersama-sama di pintu keluar. Menggenggam kisah masing-masing, lengkap dengan butiran kenangan yang berjuntai pelan. (Tapi ini bukan akhir, kawan. Masih ada labirin-labirin lain yang harus kita telusuri. Menyesap dalam ketidakabadian ini, untuk kemudian mengakhiri sebelum memulainya kembali).

"Kamu berubah, aku seperti mengenal pribadi lain dari dirimu", katamu padaku. Ya, inilah kehidupan yang selalu menyajikan beragam hal yang terkadang memaksa kita untuk tidak lagi sama seperti sebelumnya. Kau pun berubah, meski menurutmu perubahan itu tak terlalu signifikan ketimbang diriku. Kuterima saja apa pendapatmu, sebab aku pun merasakan demikian. Dan inilah aku, kawanmu dulu dalam wujudnya yang telah bermetamorfosa.

Kita mengingat begitu banyak nama, mencatat beragam peristiwa, menandai kalender-kalender dengan sesuatu yang kita anggap penting. Beberapa diantara nama itu bisa jadi sudah saling melupa. Beberapa dari peristiwa itu bisa saja menjadi identitasmu yang baru hingga hari ini. Melekat erat seakan-akan ia adalah roh keduamu. Bagaimanapun kau memaksanya pergi, ia tetap tak mau pergi. Tubuh kita akan menafsirkannya dengan berjalan beriringan, beradaptasi kembali. Lalu dari sinilah tiba-tiba kau mendapati dirimu bukan lagi dirimu seperti sebelumnya. Realitas yang mesti selalu digerakkan.

Ya, aku memang tak lagi seperti temanmu yang kau kenal dulu. Kau merasa ganjil. Ah, terkadang aku pun terheran-heran dengan diriku sendiri. Sudahlah. Kita di sini untuk saling membuka kotak-kotak yang pernah menyimpan begitu banyak memori. Meski sejenak, cukup membuatku kembali merindukan hari-hari dimana aku menjadi diriku yang dulu. Aku tahu kau pun menikmatinya. Walaupun di penghujung percakapan, kembali kau katakan, "Kamu berubah."

Kau tahu? Ternyata ada dua alasan mengapa seseorang berubah. Mereka telah belajar banyak atau mereka sudah mengalami terlalu banyak penderitaan. Cari aku diantara keduanya.

Selasa, 14 Juni 2011

Sendok di Secangkir Kopi Pagi

Siang tadi, aku menunggu lama di sebuah Bank. Di luar cukup terik, bisa memaksa pori-pori untuk mengelopakkan keringat. Letaknya tak begitu jauh dari rumah. Kupikir, sebagian besar nasabahnya juga merupakan penduduk sekitar. Terlihat dari tegur sapa yang seringkali terjadi di antara mereka. Sedangkan aku, hanya duduk diam memperhatikan, tak ada yang kukenal. Beberapa kali aku sempat saling melempar senyum dengan beberapa orang. Mungkin ini salah satu bentuk ketulusan yang kini sangat jarang ditemukan. Betapa tidak, kau tersenyum pada seseorang, ia pun membalasnya, sementara kita tak pernah mengenal dan tak saling membutuhkan satu sama lain. Namun kita saling senyum. Tanpa apa-apa, hanya tersenyum. Sulit sekali ya, membaca arti tulus itu. Namun kali ini aku tidak akan membahasnya lebih jauh, sebab tulus atau tidak, mungkin hanya hati kita dan Tuhan sajalah yang tahu. Biarkan itu menjadi sesuatu yang bahkan sampai ujung kehidupan pun menerjemahkan dirinya sebagai rahasia.

Tiap orang di ruangan itu memainkan aktivitasnya masing-masing. Ada yang bercakap-cakap, memainkan telepon genggam, melipat-lipat kertas, bengong, diam sambil melihat-lihat sekeliling, dan beragam lainnya. Mereka mungkin sibuk dengan pikirannya sendiri. Pun halnya dengan aku. Ada yang berlarian di kepala. Mengetuk-ngetukkan jarinya pada lipatan pikiranku.

Hampir setiap hari, ada saja orang baru bertemu dengan kita. Banyak diantaranya hanya bergegas tanpa mengucapkan salam, lalu pergi tanpa meninggalkan bekas apa-apa. Sebagian lagi, masuk begitu saja dalam kehidupan. Kemudian bersama-sama menjalankan titian hari yang kadang lurus, kadang menikung, berjembatan, menanjak, menurun, berbatu, bahkan berputar. Berapa banyak orang yang berlalu dalam hidupmu, berlalang dalam harimu? Tak pernah kita tahu itu bukan?

Namun diantara sekian banyak, pasti ada orang-orang tertentu yang kehadirannya seperti sebuah sendok di cangkir kopi pagi. Sendok itu bukan kopi, bukan pula cangkir. Tapi ia menceburkan dirinya hingga menjadi satu yang utuh bersama secangkir kopi. Dalam kehidupan, ada sendok-sendok yang memberikan gula sebagai pemanis bagimu, menyisihkan kepahitan yang sedang kau alami. Ada sendok yang mengadukkan serbuk susu atau krim, atau yang lainnya. Membuat hidupmu tak lagi pahit, tak lagi hitam. Namun inilah realita. Tak selamanya sendok membawa hal-hal manis. Mungkin saja ia melumerkan zat-zat atau bahan-bahan lain yang membuat kopimu menjadi lebih pahit. Bahkan tak layak lagi untuk kau minum. Kehidupanmu seperti hancur. Tak lagi punya nyala. Lalu kau mulai mencari siapa yang salah. Tak jarang seluruh sisa hidupmu kau habiskan untuk mencari jawabnya. Bijakkah itu? Kupikir tidak. Hal paling baik yang harus dilakukan adalah segera mengganti kopimu, cangkirmu, kehidupanmu. Memulai lagi semuanya pada pagi yang merekah, tanpa sendok yang telah membuatmu lebur. Ada baiknya untuk selalu melibatkan Tuhan dalam tiap sendok yang akan memasuki realita dirimu yang sesungguhnya.

Pada kenyataannya, itu semua tak semudah seperti saat aku menuliskannya. Banyak hal yang saling berkejaran di benak. Ada sesuatu yang membuat sulit untuk mengganti seluruh kopi dan cangkir itu. Bagaimanapun, segala sesuatu telah tertanam di dalamnya. Menumbuh, menguntum dan bermekaran. Tiap kali kau mencabut salah satu diantaranya, kau merasa sebuah sisi di hatimu ikut tercabut. Kau merasa tak sanggup. Kau takut untuk jatuh, untuk merasakan sakit kembali. Lalu kau berpikir, takkan mampu untuk bangkit.

Kawan, ada banyak sendok yang berhiliran dan bermudikan. Ketika salah satu atau lebih sudah mulai membuatmu koyak, mari sama-sama kita kuatkan hati untuk melakukan pergantian. Bila kau takut kenanganmu turut hilang, cuci saja cangkirnya, tak usah beli yang baru. Tapi jangan lagi kau biarkan sendok itu menaburkan luka yang sama sekali lagi. Cukup hanya sekali.



Rabu, 08 Juni 2011

Sebuah Obrolan

Kau katakan sesuatu pada siang yang riuh itu, bahwa kau bertahan hingga saat ini karena pernah melewati kematian sebelumnya. Kau hanya tahu, ada sesuatu yang harus dilakukan sebelum kau tiba di penghujung hidupmu. Entah itu apa, kau sendiri pun tak tahu. Lalu kau mulai mencari tentang semuanya. Untuk apa kau berjuang, mengapa denyut jantungmu masih berlarian di selip hari, tak mungkin semua hanya kebetulan. Dan kau tak pernah mau menyalahkan Tuhan. Kau menyadari bahwa hidup bukanlah berada dalam kesempurnaan. Dalam kelemahan lah DIA menunjukkan kasih setia-Nya. Dengan ini semua, kau menjadi tahu bahwa DIA mengasihi tanpa batas. Hanya kadang kau tersiksa, sering menangis dan mengeluh dalam kesakitan-kesakitan itu. Hidup memang perjuangan, tak semudah membalikkan telapak tangan. Inilah jalan hidup kita, hanya kau masih mencari arti dari semuanya.

Kawan, aku pun masih mencari. Aku ingin memiliki arti, setidaknya aku tahu bahwa hidupku ini tak sia-sia. Terkadang kita memang tak pernah tahu, apakah kita memiliki arti bagi orang lain atau tidak. Tapi itu bukan tugas kita untuk mencari tahu.

Kadang aku berpikir, untuk apa orang-orang seperti kita ini diadakan. Sebelah sisi dari diriku selalu menjawab bahwa pasti ada sesuatu yang Tuhan rencanakan. Hanya saja kita terlalu meninggikan ego, hingga semua rencana Tuhan menjadi tersamar. Di tengah pencarian itu tak jarang aku menjadi orang yang apatis, sensitif dan skeptis. Kubangun sendiri sebuah tembok untuk menjauhkan diri dari orang-orang yang berusaha masuk ke dalam hidupku. Seringkali pula kudorong mereka yang dekat denganku agar tercipta jarak, dan aku memilih berbincang dengan diri sendiri saja. Aku tak mau menjadi beban. Haruskah semua ini diperjuangkan hanya untuk memberatkan pundak mereka di sekelilingku? Bodoh sekali. Aku memang bodoh, kadang. *ga mau ngaku kalau emang bodoh beneran**kriuk* :D.

Kawan, bila Tuhan masih mengijinkan kita bernafas hingga hari ini, mungkin akan masih ada kisah yang harus kita tanam. Meski dalam kesakitan dan kelemahan yang kita alami, mungkin saja kelak kisah-kisah itu akan tumbuh dan ranum. Biarkan orang lain memetiknya. Karena bisa jadi saat itu kaki kita tak lagi berpijak di tanah ini.

Aku bahagia mengenalmu. Aku menjadi tahu bahwa aku tak sendirian melewati ini. Meski apa yang kulewati tak seterjal jalan yang kau lalui. Aku membaik dan kau memburuk. Tapi kita sama-sama pencipta beban ...*jreng jreng*. Haha...lupakan kalimat sebelum ini...*peace, love n gaul**uhuk**keselek cangkul*.

Senin, 06 Juni 2011

Catatan Kecil Selepas Maghrib

Sehabis Maghrib, aku duduk bertiga di teras rumah dengan mama dan abang. Ga ada obrolan serius sih, hanya saling berbagi cerita yang kami lewati, diselingi sedikit canda dan tawa kecil. Aku baru menyadari, setelah beberapa lama baru kali ini kami bisa berkumpul lagi seperti ini. Rutinitas mama dan abang lah yang terkadang membuat kebersamaan itu terlewat. Aku bercerita pada abang tentang bagaimana perjalananku ke sebuah tempat di daerah Bidara Cina bersama mama siang tadi. Untuk kali ini aku hanya membutuhkan obat (mestinon) sebutir saja. Wow!! Biasanya, paling tidak aku mengkonsumsi 2-3 butir untuk perjalanan ini. Padahal hari itu aku mengalami kelelahan fisik (juga hati dan pikiran).. :D *tewewew*. Ga hanya itu, aku musti naik-naik dan turun tangga jembatan Busway, sendiri. Yup, sendiri boooo. Horeeee :)). Ditambah lagi dengan sengatan matahari yang cukup membuat kepala dan ubun-ubun meleleh-leleh...*halah lebay*. Walaupun masih sedih karena beberapa hal yang terjadi, pengalaman siang itu cukup menghibur dan bisa membuatku cengir-cengir (kaya' kuda) dan bisa menularkan senyum ke mama plus abang. Na..na...na...

Di tengah obrolan, tiba-tiba aku nyeletuk, "Diantara kita siapa yang lebih dulu pergi ya?". Seketika mama dan abang menoleh ke arahku. Refleks, kuangkat jari tengah dan telunjuk membentuk huruf V sambil berkata "peace", dan ga lupa nyengir kudanya :D.

Bukan tanpa alasan aku bertanya demikian. Tapi mendadak pikiranku berhamburan ke masa dimana papa masih ada. Berkumpul dan saling bercerita di teras rumah adalah rutinitas keluarga kecil kami. Dan ketika papa pergi untuk selamanya, aku sampai pada titik dimana kerinduan itu membuncah, benar-benar ingin menamatkan dirinya sebagai hujan, yang mengalir di sudut mata. Hiyaaaa....kangen papa :).

Nah, pasti dong akan ada saatnya salah satu diantara kami kelak akan pergi. Kematian itu pasti bukan? Bukan kematian yang membuatku takut, sampai harus ngumpet kesana kemari, sembunyi dalam dompet atau karung beras, menyusup ke balik bantal atau kotak makan siang.. -_-" *ga jelas*. BUKAN!! Tapi lebih karena aku ga sanggup menghadapi kehilangan. Kehilangan orang-orang yang aku sayang. Yah, kalo aku duluan yang pergi sih ga apa-apa. Kalo aku yang ditinggal? Nooooo, i can't imagine that!! Huks...huks...Udah ah, plis plis jangan nangis lagi. Udah cukup nangis dua hari berturut-turut...ehehehehem.. :D. Semuanya udah diatur, iya kan? Tinggal dijalani sajaaaaa :)).

Kematian adalah kepulangan paling kekal
saat langit telah mencatat nama-nama kita
maka tak satupun yang mampu menolak
bahkan duka dan tangis pilu
saat ia datang, mungkin kita akan menangis bersama
lalu menidurkan segalanya
tapi tidak hati dan kenangan.

Untukmu orang-orang yang mengisi hidupku
ketika salah satu dari kalian pergi
akan selalu ada tempat untuk bercakap-cakap dengan rindu, dengan kalian
karena bagiku, cinta adalah kekal.