Senja....dunno why....i love it.... dan aku ingin pulang di kala senja, ketika matahari merendah pada sang malam...
aku mencintai jingga
saat semesta dinaungi semburat yang mempesona
jingga, semesta menjingga
ketika lamat-lamat suara adzan menghitung detak jantung,
mengukir sebuah kata perpisahan kepada hari
wahai senja..
terimalah aku sebagai kabut
setia menantimu menyambut malam
menundukkan hati dalam-dalam hanya untuk Sang Pemilik Alam
meruntuhkan segala penat dan kesenduan
bersujud hanya untuk satu nama teragung
dan ketika jingga menutup tabir untuk hari ini,
aku ingin pulang di kala senja
kembali pada kisahku yang terukir di langit
hening dan abadi.
saat semesta dinaungi semburat yang mempesona
jingga, semesta menjingga
ketika lamat-lamat suara adzan menghitung detak jantung,
mengukir sebuah kata perpisahan kepada hari
wahai senja..
terimalah aku sebagai kabut
setia menantimu menyambut malam
menundukkan hati dalam-dalam hanya untuk Sang Pemilik Alam
meruntuhkan segala penat dan kesenduan
bersujud hanya untuk satu nama teragung
dan ketika jingga menutup tabir untuk hari ini,
aku ingin pulang di kala senja
kembali pada kisahku yang terukir di langit
hening dan abadi.
Tampilkan postingan dengan label puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisiku. Tampilkan semua postingan
Jumat, 23 Maret 2012
Rabu, 20 Juli 2011
Secangkir Kopi Untuk Sunyi
Entah pagi, entah siang, entah sore yang hanya tersisa selembar, terlebih malam dengan segala rahasia pada gelapnya, mereka selalu menggigilkan ujung matamu. Ada yang terpagut begitu lama. Berdiri dengan seluruh ingatan yang berjejalan. Membuatmu menjadi pemetik bulir-bulir yang perlahan jatuh, mengaduh di pipimu. Kemudian kau pergi ke dapur, menyeduh secangkir kopi. Katamu, ini kupersembahkan untuk kesunyian yang selalu ada menemani. Kau sambut dengan diam. Lalu mendadak ada yang menusuk dadamu. Ternyata diam itu seperti pisau yang mencabik dirinya sendiri. Kau pun tercabik.
*Dariku : Seduhlah lagi secangkir kopi, Jasmine. Rebahkan segala nyerimu disana. Dan biarkan ia mengental bersama larut yang selalu kau jagai. Maka mari kita berdoa malam ini. Biarlah Tuhan dan segenap malaikatnya mengurai pagi, tempatmu kelak memetik helai demi helai diam yang menjelma puisi.
Minggu, 10 Juli 2011
Aku dan Langit
Duduk memandang langit
Tak ada bulan
Tak ada bintang
Sesekali ada gemuruh kecil disana
Kali ini aku diam saja
Biarkan langit yang menerka
Gemuruh apa yang sedang terjadi dalam dadaku.
Selasa, 21 Juni 2011
Bulan Itu Milikmu, Jasmine
Apa yang kau cari di atas sana?
Hingga tak lagi kau hiraukan dengung angin yang mencubit-cubit kulitmu
Malam ini dingin sekali, masuklah
Berbaringlah atau nyalakan saja televisimu atau dengarkan radio
atau telusurilah alfabet demi alfabet yang memicing di sela buku-bukumu
Payungi matamu, Jasmine
Takkah kau lihat pipimu sudah kewalahan menerima banjir yang datang tetiba
Terpaku kau di beranda rumah
Sementara pikiranmu terngiang-ngiang menuju sesuatu yang raib
Langit memang teramat lengang malam ini
Tak ada apa-apa
Kau sendiri yang bergemuruh
Bulan masih terduduk di sana
Bintang-bintang pun masih saling berkelakar
Tak ada yang hilang
Masuklah
Biar malam mengeram dirinya menjadi pagi
Tak usah cemaskan apa-apa
Bulan itu masih milikmu.
Langit memang teramat lengang malam ini
Tak ada apa-apa
Kau sendiri yang bergemuruh
Bulan masih terduduk di sana
Bintang-bintang pun masih saling berkelakar
Tak ada yang hilang
Masuklah
Biar malam mengeram dirinya menjadi pagi
Tak usah cemaskan apa-apa
Bulan itu masih milikmu.
Senin, 20 Juni 2011
Pada Suatu Senja
sekali waktu
senja pernah menjadi rumahmu
kali ini biar aku yang menaburkan jingga padanya
tergesa
meski senja berderai
Jumat, 17 Juni 2011
Perempuan Penjaga Janji
Janji yang kau kecupkan kemarin itu,
akan kujaga hingga kelak ia menetas dalam ujung penantian
walau cerita ini tak bertema,
akan kupunguti tiap lembar episodenya
kusiram dan kupupuk sampai bertunas
meski kelak ia tumbuh dari balik nisanku
atau nisanmu.
akan kujaga hingga kelak ia menetas dalam ujung penantian
walau cerita ini tak bertema,
akan kupunguti tiap lembar episodenya
kusiram dan kupupuk sampai bertunas
meski kelak ia tumbuh dari balik nisanku
atau nisanmu.
Kamis, 16 Juni 2011
Plumeria
Sekuntum Plumeria menebak-nebak sendiri takdirnya. Adakah aku lahir dari telapak tangan yang meminta langit, atau aku mekar dari doa-doa yang berjatuhan? Katanya. Seribu gerimis turut berserakan di antara kelopaknya. Tak henti mengisahkan tentang kepulangan dan kepergian. Kau tahu? Tiap kali siang mengetuk pintu, langit kembali menanak rindu. Menuntaskannya di balik nisan dan sebuah nama. Lalu disana ditemukan kesakralan jiwa yang bersanding dengan keheningan. Memuisikannya menjadi kalimat yang gagal tersampaikan, gagal bertunas. Tapi Plumeria tahu, kalimat-kalimat itu dipeluknya dan dikecup setiap kali ada mata yang menitikkan duka. Dipelihara, untuk kemudian diwujudkannya sebagai bunga yang bermekaran.
Rabu, 15 Juni 2011
Kadang
Kadang
aku ingin tak mengenal satu pun warna
agar aku tak tau bedanya pagi dan senja
antara kau dan kenangan.
Selasa, 14 Juni 2011
Di Jembatan
Begini saja,
bagaimana kalau kita berjalan di jembatan itu
kau kesana, aku ke arah lainnya.
Kita saling memunggungi.
Terus berjalan hingga ketika salah satu diantara kita menoleh ke belakang,
tak ada lagi punggung yang terlihat.
Kau menghilang, aku pun menghilang.
Dengan begitu kita sama-sama saling meninggalkan.
Mungkin bedanya aku akan menyimpanmu sebagai rindu,
sedang kau menghapusku dengan ujung sepatu.
bagaimana kalau kita berjalan di jembatan itu
kau kesana, aku ke arah lainnya.
Kita saling memunggungi.
Terus berjalan hingga ketika salah satu diantara kita menoleh ke belakang,
tak ada lagi punggung yang terlihat.
Kau menghilang, aku pun menghilang.
Dengan begitu kita sama-sama saling meninggalkan.
Mungkin bedanya aku akan menyimpanmu sebagai rindu,
sedang kau menghapusku dengan ujung sepatu.
Senin, 13 Juni 2011
Titik
Dulu aku adalah titik, kau titik
kita sama-sama menarik sebuah garis memanjang hingga menuju entah
Kali ini, aku ingin kembali menjadi titik, tanpa garis
tanpa apa-apa.
Minggu, 12 Juni 2011
Penjaga Gerimis
perahu kayu labuh
anak nelayan mekar dalam debar ombak
sehelai bulu camar gugur.
dia.
gemuruh di dadanya serupa laut
pecah di selapis sore
digenggamnya gerimis dengan teramat pelan,
dan sopan.
aku ingin pergi saja, katanya pada gerimis.
dan sopan.
aku ingin pergi saja, katanya pada gerimis.
Jumat, 10 Juni 2011
Perempuan yang Disemilirkan Angin
Sapardi pernah berkata, tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni. Mungkin ia belum pernah bertemu denganmu, perempuan yang selalu menabahkan diri meski pada sore yang terlukai senja. Itu sebabnya semesta memerah. Lukamu terlalu ranum untuk dituai langit. Maka jadilah hujan yang jauh lebih tabah dari hujan bulan Juni, yang merahasiakan rintik rindunya pada pohon berbunga. Jadilah lebih bijak dari hujan bulan Juni, menghapus jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalanan. Jadilah lebih arif dari hujan bulan Juni, membiarkan yang tak terucapkan, diserap akar pohon bunga itu. Karena kamu adalah perempuan yang disemilirkan angin, selalu bisa tertawa meski sunyi kerap menjadi kawan karibmu.
Langganan:
Postingan (Atom)


