aku mencintai jingga

saat semesta dinaungi semburat yang mempesona

jingga, semesta menjingga

ketika lamat-lamat suara adzan menghitung detak jantung,

mengukir sebuah kata perpisahan kepada hari

wahai senja..

terimalah aku sebagai kabut

setia menantimu menyambut malam

menundukkan hati dalam-dalam hanya untuk Sang Pemilik Alam

meruntuhkan segala penat dan kesenduan

bersujud hanya untuk satu nama teragung

dan ketika jingga menutup tabir untuk hari ini,

aku ingin pulang di kala senja

kembali pada kisahku yang terukir di langit

hening dan abadi.

Sabtu, 18 Juni 2011

Perubahan

Waktu sudah beranjak sekian lama. Kita bukan lagi kanak-kanak kerdil yang berlari menapak musim dengan kaki kecilnya. Cuaca telah berulang kala memutar jarumnya, tak terhitung lagi berapa kali ia memutar. Masih di pelataran yang sama. Kali ini kita menjelma jasad yang bertumbuh dengan tunas pemahaman-pemahaman berbeda. Bukankah itu yang namanya hidup? Tak pernah ada yang terulang persis seperti saat kau menekan tombol di remotemu untuk mengulang adegan sebuah film yang sedang kau tonton. Semua kejadian unik, memiliki tandanya sendiri.

Inilah jalanku. Yang membuatmu sedikit terkejut ketika aku menceritakan semuanya. Bertahun-tahun lalu kita masih berseragam putih merah, lalu perjalanan yang abstrak ini membawa kita berbelok ke arah yang berlainan. Seperti halnya labirin, penuh rahasia, penuh debar, kita menyusuri jejalan yang berjejal itu. Pada akhirnya kita berdiri bersama-sama di pintu keluar. Menggenggam kisah masing-masing, lengkap dengan butiran kenangan yang berjuntai pelan. (Tapi ini bukan akhir, kawan. Masih ada labirin-labirin lain yang harus kita telusuri. Menyesap dalam ketidakabadian ini, untuk kemudian mengakhiri sebelum memulainya kembali).

"Kamu berubah, aku seperti mengenal pribadi lain dari dirimu", katamu padaku. Ya, inilah kehidupan yang selalu menyajikan beragam hal yang terkadang memaksa kita untuk tidak lagi sama seperti sebelumnya. Kau pun berubah, meski menurutmu perubahan itu tak terlalu signifikan ketimbang diriku. Kuterima saja apa pendapatmu, sebab aku pun merasakan demikian. Dan inilah aku, kawanmu dulu dalam wujudnya yang telah bermetamorfosa.

Kita mengingat begitu banyak nama, mencatat beragam peristiwa, menandai kalender-kalender dengan sesuatu yang kita anggap penting. Beberapa diantara nama itu bisa jadi sudah saling melupa. Beberapa dari peristiwa itu bisa saja menjadi identitasmu yang baru hingga hari ini. Melekat erat seakan-akan ia adalah roh keduamu. Bagaimanapun kau memaksanya pergi, ia tetap tak mau pergi. Tubuh kita akan menafsirkannya dengan berjalan beriringan, beradaptasi kembali. Lalu dari sinilah tiba-tiba kau mendapati dirimu bukan lagi dirimu seperti sebelumnya. Realitas yang mesti selalu digerakkan.

Ya, aku memang tak lagi seperti temanmu yang kau kenal dulu. Kau merasa ganjil. Ah, terkadang aku pun terheran-heran dengan diriku sendiri. Sudahlah. Kita di sini untuk saling membuka kotak-kotak yang pernah menyimpan begitu banyak memori. Meski sejenak, cukup membuatku kembali merindukan hari-hari dimana aku menjadi diriku yang dulu. Aku tahu kau pun menikmatinya. Walaupun di penghujung percakapan, kembali kau katakan, "Kamu berubah."

Kau tahu? Ternyata ada dua alasan mengapa seseorang berubah. Mereka telah belajar banyak atau mereka sudah mengalami terlalu banyak penderitaan. Cari aku diantara keduanya.

6 komentar:

  1. saya Senja. Symphoni Senja..

    BalasHapus
  2. @Symphoni Senja : I know you...Oni.. :)
    Trims udah mampir kesini yaaa..

    BalasHapus
  3. realitas yang selalu bergerak pasti membawa perubahan ya... tinggal gimana kita menyikapinya :)

    BalasHapus
  4. perubahan itu sedikit sekali perbedaannya dengan keadaaan sebenarnya yah... jadi tergantung kesiapan kita dalam menerima perubahan..

    BalasHapus
  5. @Tekhnik Menulis : Iya :)
    Semuanya tergantung dari diri kita sendiri..

    BalasHapus