aku mencintai jingga

saat semesta dinaungi semburat yang mempesona

jingga, semesta menjingga

ketika lamat-lamat suara adzan menghitung detak jantung,

mengukir sebuah kata perpisahan kepada hari

wahai senja..

terimalah aku sebagai kabut

setia menantimu menyambut malam

menundukkan hati dalam-dalam hanya untuk Sang Pemilik Alam

meruntuhkan segala penat dan kesenduan

bersujud hanya untuk satu nama teragung

dan ketika jingga menutup tabir untuk hari ini,

aku ingin pulang di kala senja

kembali pada kisahku yang terukir di langit

hening dan abadi.

Senin, 18 Oktober 2010

Dewi Sri di Sebuah Pagi


Dari ujung sebuah sajak
kulihat matanya nanar memerah
masih pagi.
burung-burung baru saja memulai langkah takdir mereka hari ini
takkah kepaknya membuatmu tersenyum, sedikit saja?

kau ubah pagi ini dengan bau asin air matamu
apakah kau menangisi butir nasi yang dibuang?
sebab ibuku pernah berkata :
"Habiskan nasimu, nak. Jangan sampai dibuang, nanti dewi sri akan menangis!"

 "Bukan itu yang membuatku menangis", jawabnya.
"Tapi karena nasi-nasi itu tak tersebar merata
hanya menumpuk di beberapa perut.
Sementara banyak perut lain yang merindukan nasi."

Dari ujung sajak, aku pun terdiam.
Lalu kulihat ia tengadahkan kepala
Ia berdoa.
Mungkin untuk perut-perut kosong yang tertatih di pagi ini

Gambar dari sini 

23 komentar:

  1. dewi sri akan selalu sedih...
    melihat dan merasakan semua ini...
    tatkala semua lahan dibabat habis...
    dan semua berganti menjadi sebuah bangunan cantik...

    yang lebih membuat miris lagi...
    selain tidak merata, nampak di tempat lain orang2 yang memakannya, namun sering pula dengan tanpa hati membuangnya tanpa belas kasih...

    BalasHapus
  2. penuh pesan puisinya
    banyak orang yang tak bisa meraskan nikmatnya nasi
    sedang banyak orang pula yang tak mensyukuri

    BalasHapus
  3. Kak Diana....Iya kak. Kesenjangan yang dari dulu ga pernah selesai. Dua sisi yang sangat bertolak belakang. Miris banget...
    Walaupun mungkin kita juga ga bisa berbuat banyak, setidaknya kita selalu bersyukur bahwa makanan selalu cukup untuk kita.


    Chika....Semoga kita termasuk orang2 yang selalu bersyukur ya..^^

    BalasHapus
  4. dalam setiap butir nasi, diciptakan dengan proses yang tidak mudah. Kuasa Allah atas semuanya. Namun kita sering menyia-nyiakan terhadap apa yang tersaji sehingga nasi sepiring terbuang percuma bersama barakah yang ada di dalamnya. dan benar bahwa banyak diantara kita yang kurang membuka mata bahwa sebutir nasi itu sungguh berarti bagi jutaan manusia di sekitar kita

    BalasHapus
  5. Hmmmh.......sedih mb.Nilla, betapa banyak ygtidak kenal rasa kenyang, sementara yang lain menghambur-hamburkan makanan ya mb.Nilla.

    Semoga mb.Nilla selalu dlm keadaan sehat ya, amiin. *Peluuuk...:)*

    BalasHapus
  6. Yupz.. masih banyak perut yg membutuhkan nasi jadi gak selayaknya kita membuang2 nasi itu......

    >> Nilla ikut PB juga ya?

    happy blogging N have a nice day....

    BalasHapus
  7. burung pagi, tak mampu mengepakan sayap pun tetap terLihat cantik daLam senyum sendunya. menjerat setiap pemburu yang seLaLu mendekatinya, pikat terbuang dan ingin menangkap serta membeLai buLu haLusnya.

    burung pagi, kicauan mu merdu. semerdu hati merindu pada kedamaian pagi cerah menuju senja merona.

    sinaran mentari menumbuhkan batang-batang padi merunduk, menguning, dan berisi. seLaLu di tunggu rongga perut-perut pada sajian Lezat candu, di pucuk cemara burung padi seLaLu menunggu kehadiran mu.

    namun apa yang terjadi???.

    sang burung pagi bertengger di pucuk cemara, memetik renik upiL yang tersudut pada tindas kaki tak bertuLang. aduh!!!. hihihi...

    BalasHapus
  8. Dewi Sri pun menangis....
    Teringat dia Bapak petani yg meneteskan keringat untuknya
    Sedangkan,pemerintah mencanangkan program "STOP MAKAN NASI!"
    Bukankah dari dahulu negeri ini disebut negara agraris?

    BalasHapus
  9. Dewi sri pun menangis...
    Negeri yang terkenal sebagai negeri agraris ternyata hanya isapan jempol belaka.

    nah loh, kelingkingnya kemana ya dik??????? hehehe

    BalasHapus
  10. Mas Pakies....Ada pelajaran dalam setiap butir nasi. Dan semua hanya karena kebesaran Allah ya mas. Semoga kita ga termasuk ke dalam orang2 yang sia2..


    Mba Winny....Iya mba..
    Amin..semoga mba juga ya.. :)
    *Peluk sayaaang*


    Ferdinand....Pengennya ikut Fer, tapi belum tau pasti :)


    Om Dek....Awalnya sih oke...akhirnya kok aneh ya..hihi..*pura2 ga ngerti*


    Kak Ami....Negeri agraris, dulu memang iya. Tapi sekarang udah ga...menyedihkan sekali.. :(
    Haduh!! Kelingkingnya dicari dulu deh kak..hehe

    BalasHapus
  11. coba deh kita ngupiL bareng, nti pasti tau maksudnya. hihihi.
    upiL ^_^

    BalasHapus
  12. halo sobat...
    salam kenal n sekalian izin follow
    jika berkenan follow balik ya
    terima kasih

    BalasHapus
  13. berkunjung mencari info yang bermanfaat dari blog ini
    terima kasih

    BalasHapus
  14. malem nilla :P

    iya tuh banyak org yg susah banget untuk makan, jadi gak boleh kita buang2 tuh nasi...

    >> iya nie.. aku juga susah nuker tiketnya.. aku udah tanya sama Nena boleh gak klo tiketnya dityuker pas hari H disana, tapi dia blum jawab... jadi kan kita gak perlu daftar cuma tinggal nuker tiket doank hhe..... aku juga masih InsyaAllah hhe.....

    Semangat :P

    BalasHapus
  15. Dewi Sri kini lebih sering main ke Thailand dan Vietnam yang lantas mengangsur bulirnya ke perut-perut kapal yang berlabuh di Tanjung Priok, pasar induk Cipinang dan mengalir ke dapur rumah kami qe3

    BalasHapus
  16. Om Dek.... -_-"


    Imtikhan....Terima kasih ya ^_^


    Tip Trik Blogger....Thanks ya ^_^


    Ferdinand....Hehe...bener Fer..
    Mudah2an ga ada halangan yang berarti ya, jadi bisa ikutan. Aku ga jadi ikut nih..


    Mas Inung....Dewi Sri nya pasti nangis terus waktu main2 ke Thailand dan Vetnam :))

    BalasHapus
  17. Kangen, sdh lama gak mampir.
    Begitu mampir eh...banyak banget tulisan yang 'mencerahkan'.
    Anyway, puisi ini mirip dgn salah satu status FB-mu ya Nilla..?
    Semoga kita menjadi umat Rasulullah yang mampu menghargai setiap butir nasi yang menjadi rezeki setiap hari...!
    Juga mampu 'berbagi' rasa kenyang kepada mereka yang tidak mampu menikmati 'rasa' itu..!

    Salam Manis selalu...!!

    BalasHapus
  18. Agustyno Yasin21 Okt 2010 21.28.00

    Adalah baik jika menaru belas kasih kpd yg mngkn lebih kekurangan dari diri kita, terlebih lagi kpd mrk yg makan pun begitu susah. Tapi jika kita tdk melihat didepan mata atas kelaparan mereka & kesengsaraan mereka lalu kita bersedih itu hanyalah menyiksa diri kita.

    Rezeki itu sdh ada yg mengatur;
    "Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS.29:60)

    "Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.(QS.2:255)

    Met malam nil.. :)

    BalasHapus
  19. -_-" capek deuh, hihihi...

    BalasHapus
  20. nasi,...
    jadi laper (he..he..)
    btul, disaat rakyat negeri ini dirundung klparan, mereka -orang2 yg konon menamakan diri mereka wakil rakyat- mlah menjejali prut mreka hgga kmbung... ironis...

    BalasHapus
  21. Mba Ayu....Amin..
    Iya mba. Ini pengembangan dari status fb ku dulu..hehe


    Mas Agus....Ini bukan suatu bentuk kesedihan mas. Tapi suatu keprihatinan dengan sebuah tindakan. Bersedih tidak lantas hanya menangis lalu meyiksa diri, melainkan mengambil pelajaran bahwa semuanya harus disyukuri dan bagaimana kita bisa membuat suatu tindakan, tidak hanya berdiam diri. Misalnya dengan menyisihkan sebagian rejeki untuk mereka yang kekurangan :)


    Om Dek....Kasian deh aku -_-'


    Lone Fighter....Inilah ironi di negeri kita bukan? :)

    BalasHapus
  22. cantik dewi sri...

    BalasHapus
  23. @Anonim : Ya, dewi sri yang cantik :)

    BalasHapus