Kamis, 16 Juni 2011

Plumeria


Sekuntum Plumeria menebak-nebak sendiri takdirnya. Adakah aku lahir dari telapak tangan yang meminta langit, atau aku mekar dari doa-doa yang berjatuhan? Katanya. Seribu gerimis turut berserakan di antara kelopaknya. Tak henti mengisahkan tentang kepulangan dan kepergian. Kau tahu? Tiap kali siang mengetuk pintu, langit kembali menanak rindu. Menuntaskannya di balik nisan dan sebuah nama. Lalu disana ditemukan kesakralan jiwa yang bersanding dengan keheningan. Memuisikannya menjadi kalimat yang gagal tersampaikan, gagal bertunas. Tapi Plumeria tahu, kalimat-kalimat itu dipeluknya dan dikecup setiap kali ada mata yang menitikkan duka. Dipelihara, untuk kemudian diwujudkannya sebagai bunga yang bermekaran.

4 komentar:

  1. bunga plumnya baru pada mekar ya kak??
    hihi..

    apa kabar kak, selalu smangat nih buat trus di jalur sastra,,

    jadi ingat rumah klo ingat bunga ini, klo pagi ktika smua orang brngkat kerja, dan skolah pasti hnya bunga ini yang jd temen mama, hhe

    BalasHapus
  2. @Tito : Ada yang homesick niiiiy :P
    Inget rumah apa inget mama..hoho..

    Semoga lancar di jalur ini (suka angot2an sih..hehe)

    Kalau kangen rumah, pulkamlah To. Kampuang maimbau-imbau tuu :D

    BalasHapus
  3. hahahhaha,,, sukses trus kak aku doa'in...
    yuukk pulkam, pas lebaran aja tapinya ..:p

    BalasHapus
  4. @Tito : Amiiin...makasi doanya yaaa :)

    Kalo jadi pulkam jangan lupa bawa oleh2 ya *pulkam aja belum udah minta oleh2* :D

    BalasHapus